<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668</id><updated>2012-02-16T13:21:22.480+07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Cerita'/><category term='Kolom'/><category term='Fiksimini'/><title type='text'>Kacamata Janoary</title><subtitle type='html'>Memasuki Ruang Napas, Membaca Kata melalui Berbagai Kacamata</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>69</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-904916412726626915</id><published>2011-05-28T23:20:00.002+07:00</published><updated>2011-05-31T03:23:46.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Rimba Kata</title><content type='html'>&lt;div class="mtm fbDocument"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Biarkan saja pikirmu jatuh dalam pangkuan yang dingin. Sesekali  tubuhmu menunjukan lelah yang sangat. Aku tak tega melihatmu berpikir  tentang apa yang aku juga tak tahu, apa yang kau pikirkan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Cangkir – Arya Sutha&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang pernah berkata, sastra adalah hutan rimbanya kata.  Tetapi, bagiku, hutan dan rimba adalah dua hal yang berbeda. Berbeda  seperti cangkir dan gelas. Hutan, setahuku, adalah tempat pohon-pohon  ditanam oleh manusia untuk sesuatu, mungkin tujuan tertentu. Biasanya  nama hutan ditentukan dengan jenis pohon yang tumbuh di dalamnya.  Pohon-pohon yang sejenis. Hutan jati, misalnya, untuk menyediakan  pasokan kayu jati. Hutan karet juga, menjadi tempat petani karet  menyadap pohon karet. Hutan pinus, mungkin menjadi tempat yang rindang  untuk sekadar berekreasi. Ya, hutan itu untuk manusia. Sedangkan rimba  adalah belantara, tempat berbagai jenis tumbuhan di sana. Pohon besar,  pohon kecil, tumbuhan suplir, jamur, dan apa saja yang bisa tumbuh di  tanah, bisa jadi tumbuh di rimba. Jarang manusia yang menyentuhnya,  sebab masih liar. Tak terbaca, bisa bikin tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu dengan karya sastra. Puisi itu taman bunga, di ruang yang  lebih kecil, kata-kata ditanam dengan seluruh kesiapan. Cerpen dan novel  bisa jadi adalah hutan (atau) rimba. Bisa jadi hutannya kata-kata, bisa  jadi rimbanya kata-kata. Hutan ketika kata-kata disusun berdasarkan  sesuatu. Entah apa itu, bisa jadi alur cerita, petualangan tokoh, atau  apapun keinginan penulis. Rimba ketika kata-kata dibiarkan tumbuh liar,  tak ada kaidah di sana. Apapun yang ingin tumbuh, silakan tumbuh. Ide  apapun yang ingin menjadi kata, silakan menjadi kata. Hutan memang  teratur, tetapi keteraturan itu bagi beberapa orang dianggap batasan.  Batas yang menjadikannya monoton. Rimba adalah liar, tantangan bagi yang  suka tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qoEyr9hGhF8/TeP8v1WxwvI/AAAAAAAAAFg/31Au5IGVNlo/s1600/rainforests-12454.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-qoEyr9hGhF8/TeP8v1WxwvI/AAAAAAAAAFg/31Au5IGVNlo/s320/rainforests-12454.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cerpen Cangkir karya Arya Sutha ini pun begitu. Aku menganggapnya  sebagai rimbanya kata. Ide-ide tumbuh-bertumbuh di mana-mana. Tak perlu  ada kaidah. Tak perlu ada alur cerita yang mengatur. Paling tidak,  seperti itu pembacaanku. Sebab, tak kudapat alur cerita yang jelas.  Mungkin sengaja dikaburkan. Mungkin memang tak pernah ada alur cerita di  dalamnya. Ya, nama-nama bermunculan tapi tak satupun menjadi tokoh.  Aku-tokoh pun hanya mengalir mengikuti arus kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu ketika aku-tokoh menggambarkan diri sebagai seorang penunggu. &lt;i&gt;Seperti  biasa itulah pekerjaanku, menunggu Ben buang air karena ia takut gelap,  menunggu Agus yang sedang rapat, menunggu Hari makan dengan adiknya. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Aku menunggu.&lt;/i&gt;  Pada ketika lain, aku-tokoh menjadi pengamat tanda-tanda alam.  Pantheist. Aku-tokoh bertanya tentang pesan apa—yang mungkin ada  untuknya—dari cahaya yang &lt;i&gt;perlahan-lahan memeluk dan bercumbu di langit sore.&lt;/i&gt;  Lalu, di ketika yang lain lagi, aku-tokoh menjadi pembenci kopi tapi  pecinta kebencian. Itu sebabnya, aku-tokoh sering minum kopi. Aku-tokoh  semacam angin, yang bergerak dari lembah ke lembah. Berloncatan dari  tanda ke tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sepertinya memang begitu. Cangkir ini penuh dengan tanda—baik  berupa kata atau kalimat atau tanda itu sendiri. Cangkir menjadi  rimbanya tanda. Namun, semiotika tanda lahir dari strukturalisme  Saussure. Dan, Saussure itu berpegang teguh pada oposisi biner. Ada  siang ada malam, ada tinggi ada rendah. Ada gula ada semut bukan oposisi  biner-nya Saussure, itu peribahasa Indonesia. Tentang tanda, Saussure  mungkin menyebutkan ada tanda ada penanda. Tanda tak mungkin lahir  begitu saja, selalu ada penandanya. Seperti kursi itu selalu lahir  bersama konsep tentang kursi, entah itu tempat duduk, atau jabatan. Saya  membayangkan Arya Sutha ketika menuliskan cerita ini. Ide-ide di  kepalanya berkecamuk. Dan jemarinya, menuliskan apa saja yang terlintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembaca awam, saya curiga. Jangan-jangan Arya Sutha, melalui  cerpen Cangkir ini, sedang melakukan semacam audisi siapa yang mampu tak  tersesat di rimba katanya, rimba tandanya. Pembaca diajak masuk dengan  kata-kata puitis. Pembaca dipancing masuk dengan kalimat-kalimat kuat  yang ditata dengan indah. Tapi, di mana setapak tempat aku pulang, di  mana alur ceritanya. Sial, mungkin saya bisa jadi pembaca yang tidak  lolos audisi awal. Sebab, di beberapa paragraf awal, saya tak kunjung  menemukan alur cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga, membaca cerpen Cangkir ini, ketersesatan—mungkin  yang menyebabkan saya gagal di audisi awal—bukan sesuatu yang perlu  disesali. Arya Sutha sudah mampu menampilkan keindahan dalam merangkai  kata, merangkai kalimat. Seperti diajak bertamasya, melihat keindahan  rimba. Pepohonan di sana-sini. Rindang di sana-sini. Eh, itu ada air  terjun, indah juga. Eh, ada lagi binatang liar, sensasi pemandangan yang  tak kalah mengasyikkan. Tapi, di mana jalan pulang? Arya Sutha sebagai  panitia audisi pasti mengantarkanku pulang. Ya, sebuah tamasya di rimba  kata yang menyenangkan. Semoga, lain kali, Arya Sutha mengajakku  bertamasya ke rimba kata lagi. Tapi, kali itu, aku berharap dia sudah  menyiapkan jalur darurat jikalau nanti aku tersesat.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-904916412726626915?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/904916412726626915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/rimba-kata.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/904916412726626915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/904916412726626915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/rimba-kata.html' title='Rimba Kata'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qoEyr9hGhF8/TeP8v1WxwvI/AAAAAAAAAFg/31Au5IGVNlo/s72-c/rainforests-12454.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5033125269304168524</id><published>2011-05-28T17:17:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T03:18:21.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Layang-layang</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Bermain di tanah lapang,&lt;br /&gt;kulihat layang-layang putus benang&lt;br /&gt;angin membawanya ke sembarang&lt;br /&gt;kukejar&lt;br /&gt;kuincar&lt;br /&gt;ke arah sembarang&lt;br /&gt;Layang-layang bukan buah,&lt;br /&gt;tak jatuh tak jauh dari pohonnya&lt;br /&gt;Bukan manusia&lt;br /&gt;tak jatuh lalu kalang tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layang-layang putus benang,&lt;br /&gt;kukejar&lt;br /&gt;kuincar&lt;br /&gt;kupandang langit ke arah layang-layang&lt;br /&gt;bebatuan,&lt;br /&gt;ah, aku tersandung&lt;br /&gt;akar-akar,&lt;br /&gt;ah, aku terjerembab&lt;br /&gt;lelubang,&lt;br /&gt;ah, aku terperosok&lt;br /&gt;Angin menerbangkannya ke sembarang&lt;br /&gt;Belum kuraih, sudah kutertatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layang-layang putus benang,&lt;br /&gt;Aku ingin pulang,&lt;br /&gt;"Bu, oh ibu..Ajari anakmu ini&lt;br /&gt;berjalan lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5033125269304168524?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5033125269304168524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/layang-layang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5033125269304168524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5033125269304168524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/layang-layang.html' title='Layang-layang'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4626999937118501043</id><published>2011-05-27T21:43:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T01:51:02.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Bad Guy yang Pahlawan</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Bagaimana nasib Batman  jika Joker tiba-tiba bersedih dan mengurung diri di kamarnya, tak mau  lagi membuat kekacauan di kota Gotham? Bagaimana pula Superman akan  menjalani hidupnya jika Lex Luthor memutuskan alih profesi menjadi CEO  tim sepakbola Chelsea dan berhenti mengonfrontasi Superman? Tidak ada  serial film dari Batman ataupun Superman yang menceritakan kisah semacam  ini. Memang kisah semacam itu tidak lagi menarik. Tidak ada konflik.  Tidak ada pertentangan. Kisah heroik akan menjadi membosankan. Namun,  Megamind, film animasi 3D produksi Dreamworks besutan Tom McGrath,  berani mengangkat kisah semacam itu. Bukan pahlawan yang kehilangan  penjahat, melainkan penjahat super yang kehilangan pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita  diawali dengan sebuah kilas balik. Megamind—nama tokoh utama film ini  yang suaranya diisi Will Ferrell—terjatuh dari langit. Tiba-tiba dia  ingat bagaimana mulanya dia bisa sampai pada keadaan itu. Dua planet  yang tersedot lubang hitam mengirimkan pesawat yang berisi dua bayi,  generasi terakhir dari ras mereka. Pesawat pertama berisi bayi  berkekuatan super dan berparas tampan, kedua berisi bayi berwana biru  berkepala besar dan super jenius. Dua pesawat penyelamat itu mendarat di  bumi. Dalam perjalanan di angkasa, persaingan di antara keduanya sudah  di mulai.&lt;br /&gt;Kisah berlanjut. Dua pesawat penyelamat tersebut sampai  di planet Bumi. Bayi berwarna biru dan berkepala besar jatuh di penjara,  para penjahat membesarkannya. Lain nasib, sebuah pasangan suami istri  bumi yang normal menemukan bayi berkekuatan super—Superman dengan  kemampuan terbangnya dan tubuhnya yang &lt;i&gt;otot kawat balung wesi&lt;/i&gt; selalu menjadi imaji tentang bagaimana kekuatan super itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megamind  dibesarkan dengan cara penjahat. Berbuat buruk adalah baik, dan berbuat  baik adalah buruk. Bayi tentu saja menerima apa saja yang diberikan  padanya. Dan, dengan pola seperti itu, juga didukung dengan kekuatan  otaknya yang super jenius, Megamind mulai mengacau di penjara. Akhirnya,  kebijakan penjara membuat Megamind dikirim ke sekolah, mungkin untuk  mendapat pengajaran yang lebih baik. Ada yang lucu dan menarik yang  dimasukkan penulis scenario, John A. Schoolcraft, ke dalam alur cerita,  yaitu pelafalan &lt;i&gt;school&lt;/i&gt;. Semestinya &lt;i&gt;school&lt;/i&gt; dilafalkan  /skul/, tapi dalam film ini dilafalkan /syul/. Bisa jadi itu kelakar  pribadi John A. Schoolcraft yang namanya sering dilafalkan /skulkref/,  semestinya adalah /syulkref/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita. Seperti  di film-film sebelumnya—salah satu yang terkenal adalah Madagascar,  McGrath kerap menampilkan kritik-kritik sosial. Misalnya dalam film ini,  sekolah ditampilkan tak selalu memberikan hal baik. Di sekolah itulah,  Megamind menemukan takdirnya, jati dirinya sebagai penjahat super.  Menjadi teman sekelas Metroman—bayi berkekuatan super yang  diidolai—membuat Megamind menjadi defian, yang terkucilkan. Setiap hal  yang dia lakukan selalu nampak lebih buruk jika dibandingkan dengan  Metroman. Metroman selalu menjadi anak baik, sedangkan Megamind menjadi  si anak nakal. “Jika aku memang anak nakal, maka aku akan menjadi anak  nakal yang paling nakal sedunia.” kata Megamind, dengan gaya kocaknya.  Jati diri ditemukan. Takdir telah dipahami. Tapi apakah permasalahan  hidup akan selesai setelah jati diri ditemukan dan takdir sudah  dipahami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metroman menjadi pahlawan Metro City, dan  Megamind menjadi panjahat super. Tidak seperti cerita lain yang penjahat  super selalu kalah. Megamind berhasil menghentikan Metroman. Sang  pahlawan mati. Kota dikuasai kejahatan. “Bayangkan saja hal yang paling  mengerikan dan menyeramkan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya,  lalu kalikan enam. Atau lebih sederhananya, kalian akan mulai menjalani  kehidupan normal yang suram seperti layaknya orang normal.” kata  Megamind dalam konferensi pers setelah membunuh Metroman. McGrath  mengangkat persaingan antara baik dan buruk tidak dengan alur yang  serius. Seperti banyak film animasi, Megamind menyuguhkan  guyonan-guyonan satire di sana-sini. Megamind, penjahat super yang kocak  melawan Metroman, pahlawan super yang terkenal bak selebritis—Batman  bersembunyi di gua kelelawar dan Spiderman di salah satu kamar di jutaan  gedung bertingkat di kota New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kegalauan Penjahat Super&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penjahat  super yang tujuan hidupnya hanya mengacau semestinya bahagia ketika dia  bisa menguasai kota. Tetapi, tidak dengan Megamind. Malah kesepian yang  dia rasakan. Untuk mengapa mengacau kota jika tidak ada yang mampu  menghentikannya? Untuk apa bermain jika kemungkinan yang dipunyai  hanyalah menang. Tidak seru. Tidak menyenangkan. Membosankan. Ya,  Megamind mengalami kejenuhan dalam berbuat jahat setelah kematian  Metroman, rival abadinya—atau sebut saja pasangan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pquc0dYktcI/TePmwCcj90I/AAAAAAAAAFM/olnw-j1XWz8/s1600/alg_megamind.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-pquc0dYktcI/TePmwCcj90I/AAAAAAAAAFM/olnw-j1XWz8/s320/alg_megamind.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dunia  ini butuh keseimbangan untuk terus berputar. Baik ataupun buruk harus  selalu ada, berdampingan. Jika baik atau buruk itu hilang salah satu,  yang muncul hanya kehampaan. “Apakah ini yang disebut ruang hampa? Ruang  hampa yang di dalamnya tujuan tak pernah ada,” Begitulah dialog  eksistensial antara Megamind dengan mainan di meja kerjanya. Namun,  bukan penjahat super jenius yang banyak akal jika tidak bisa mengatasi  masalah eksistensial itu. Dia mengambil jubah yang ditinggalkan  Metroman, mengambil ketombe yang menempel di sana. Megamind menciptakan  pahlawan super dari DNA Metroman. Iya, penjahat super menciptakan  pahlawan untuk menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku penjahat tanpa  pahlawan. Aku tanpa tujuan. Aku Yin tanpa Yang.” katanya pada  asistennya, Minion. Megamind butuh liyan yang bersebarangan dengannya  agar tetap hidup, agar tetap punya tujuan, mengacaukan Metro City.  Seperti yang pernah Paman Ben katakan kepada Peter Parker di film  Spiderman, “Great power comes great responsibility”. DNA super Metroman  jatuh ke tangan salah. Titan, tokoh super ciptaan Megamind yang  semestinya bertugas menjaga Metro City ketika Megamind mengacau, malah  merusak kota. Titan tak mengerti bagaimana bertanggung jawab atas  kekuatannya, dia menyalahgunakan kekuatan super itu. Megamind kalah  bertarung dengan Titan. Penduduk Metro City berbahagia dan berteriak,  “Titan telah membebaskan kita dari Megamind.” Tetapi Titan menyeringai  seraya berujar, “Aku tidak mengatakan bebas. Lebih tepatnya, di bawah  tirani baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada kata-kata Umberto Eco, pahlawan  itu dibentuk oleh keadaan. DNA super dari pahlawan super pun bisa jadi  tirani yang malah menghancurkan jika jatuh di tangan dan salah. Tak  seorang pun, menurut Eco, bisa menjadikan dirinya pahlawan. Jika pun  bisa, dia tidak menjadi pahlawan, melainkan menjadi kekuasaan—efek dari  kekuatan yang disalahgunakan. Megamind pun tidak ingin mengingkari jati  dirinya, penjahat super, anak nakal paling nakal sedunia. Namun, di film  ini, Megamind adalah seseorang yang masih punya hati. Ya, masih punya  sedikit rasa tanggung jawab di dalam dirinya. Dia yang menciptakan  Titan, dia pulalah yang mesti menghentikan Titan. Dia Yin yang menemukan  Yang-nya. Megamind, penjahat super, yang ingin menghentikan pahlawan  super yang menguasai kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan itu bersifat menolong,  berkorban untuk orang lain. Eksistensial, hal tersebut sulit dilakukan.  Setiap diri pada dasarnya ingin menjadi diri sendiri untuk diri  sendiri, bukan orang lain. Namun, karena itulah, pahlawan dipuja. Dia  yang mau berkorban untuk orang lain—seringkali mengorbankan diri  sendiri—adalah pahlawan. Tak mudah menjadi pahlawan. Apalagi, bagi  Megamind, yang semula yang dia pikirkan hanya bagaimana cara membuat  kekacauan. Sekarang, penjahat super itu harus mengembalikan tatanan,  menjadi oposisi dari kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku penjahat super. Aku  tidak menolong orang,” kata Megamind, setelah dia menyadari bahwa  bagaimanapun penjahat super selalu kalah dari pahlawan. Bahkan pahlawan  yang merusak kota. Megamind sempat menyerah, kembali ke penjara,  mengurung diri di selnya. Merenungi kesalahan-kesalahan yang telah dia  perbuat. Dan, pada akhirnya. Kesadaran yang lain datang. Megamind,  penjahat super, selama ini selalu melakukan kejahatan, tidak peduli  bahwa bagaimanapun juga kejahatan tak mungkin menang melawan kebaikan.  Kesadaran bahwa bukan di pihak mana kita berdiri, tapi bahwa kita tidak  pernah menyerah adalah sebenar-benarnya kekuatan. Juga cinta. Sebab,  yang menyadarkan Megamind akan hal itu, adalah Roxanne, gadis yang ia  cintai—penjahat pun mempunyai jatah yang sama soal romantisme dan kisah  cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kemampuan otaknya, dia merencanakan  segalanya. Dan, seperti banyak cerita lain, penjahat selalu menang.  Lebih tepatnya mungkin, tokoh utama selalu menang. Megamind telah  menjalani takdirnya, menjalani hidup dan bertanggung jawab atas semua  perbuatan yang dia lakukan di masa silam. Itulah takdir. Ya, pesan dari  film ini, bahwa baik dan buruk itu relatif dan subjektif. Tak perlu  terlalu dipusingkan dengan di sisi mana kita berada, menjalani takdir  adalah niscaya. Sebab, takdir bukanlah apa yang dituliskan untuk kita,  melainkan apa yang kita pilih untuk kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4626999937118501043?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4626999937118501043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/bad-guy-yang-pahlawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4626999937118501043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4626999937118501043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/bad-guy-yang-pahlawan.html' title='Bad Guy yang Pahlawan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pquc0dYktcI/TePmwCcj90I/AAAAAAAAAFM/olnw-j1XWz8/s72-c/alg_megamind.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7957406196835702660</id><published>2011-05-26T23:14:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T03:15:14.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kopi, Mari Bersulang Diri</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Kuseduh dirimu pada secangkir gelas,&lt;br /&gt;kutanam pada mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kauseduh aku pada kota-kota cemas,&lt;br /&gt;kaurebahkan pada kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi, mari bersulang diri&lt;br /&gt;Hitammu adalah tintaku&lt;br /&gt;Ampasmu adalah jasadku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7957406196835702660?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7957406196835702660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/kopi-mari-bersulang-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7957406196835702660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7957406196835702660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/kopi-mari-bersulang-diri.html' title='Kopi, Mari Bersulang Diri'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2739630960522967237</id><published>2011-05-26T13:45:00.003+07:00</published><updated>2011-05-31T03:57:35.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Acacil</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vODAPuDE-N4/TeQEpscDT2I/AAAAAAAAAFk/x_gkOILmkE8/s1600/Diesel_Be_Stupid_Advertisement_Craziness_2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-vODAPuDE-N4/TeQEpscDT2I/AAAAAAAAAFk/x_gkOILmkE8/s320/Diesel_Be_Stupid_Advertisement_Craziness_2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Om Taufik, pinjem dong!" pikirku,  setelah menemukan kutipan yang menarik dari Taufik Ismail. Ya, Om  sastrawan itu pernah berkata kurang lebih demikian, generasi mahasiswa  era 90-an itu rabun membaca dan lumpuh menulis. Mungkin maksudnya,  mahasiswa kala itu jarang membaca dan, sebagai imbasnya, jarang menulis.  budaya literasi Indonesia dimatikan oleh generasi yang diharapkan  menghidupkan budaya literasi itu. Mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pinjem lagi, ah."  kataku kepada Soe Hok Gie, semoga dia bisa mendengar. Koh Gie punya  sebutan khusus buat mahasiswa, the happy selected few[1]. Ya, mahasiswa  adalah kaum elit masyarakat yang terpilih, yang jumlahnya sedikit tapi  mempunyai kesempatan untuk membuat perubahan. Tercermin dari tingkat  pendidikan yang dienyam, mahasiswa mempunyai budaya literasi, budaya  membaca dan menulis yang tinggi. Inilah elemen masyarakat yang mempunyai  tingkat intelektual tinggi, mencerminkan intelektualitas suatu  bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Om Taufik dan Koh Gie kan jadul, belum kenal  twitter dan facebook.” kataku. Pantas jika pemikiran seperti itu muncul  dari kepala mereka. Mahasiswa sekarang sudah paham bahwa mereka adalah  kaum elite masyarakat, Agent of Change. Selain kampus, mahasiswa jaman  ini mempunyai ruang diskusi baru, jejaring sosial. Arus informasi  telah bergerak begitu cepat. Budaya literasi pun seakan-akan ikut  ngebut. Koran dan buku tak lagi menjadi bacaan rujukan utama. Bagaimana  pun juga, mesin cetak masih kalah cepat dengan jaringan wi-fi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah,  nawaitu mengomentari pernyataan Om Taufik yang hebat itu. Iya, yang  rabun membaca dan lumpuh menulis itu mahasiswa era-90an. Beda jaman beda  permasalahan. Rabun membaca dan lumpuh menulis tak lagi menjadi  permasalahan di Indonesia sekarang[2]. Budaya literasi—dengan adanya  jejaring sosial—semakin ramai. Mahasiswa membaca mahasiswa menulis. Jika  kita melihat fenomena facebook, budaya literasi bahkan sudah  terlengkapi dengan budaya berdiskusi. Diskusi di ruang maya tak lagi  mengenal waktu, kapanpun dan dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu hal lagi ya, Om  Taufik. Tidak bermaksud tak sopan padamu.” kataku, sambil tersenyum agar  masih kelihatan menghormati yang lebih tua. Jika Om Taufik berkenan  melihat lebih dalam, mahasiswa sekarang sudah mengusung, merencanakan  sebuah perubahan dengan budaya literasinya. Budaya literasi, membaca dan  menulis, sudah diusung ke arah yang lebih relevan, lebih tepat guna  dengan jaman. Mahasiswa sekarang cukup visioner, kreatif dan inspiratif  dalam kaitannya budaya literer. Membaca status dan menulis komentar  sudah dikoar-koarkan oleh para agen perubahan itu. Kreativitas pun  terpupuk dengan bermunculan gaya bahasa baru: bahasa Indalayesia[4],  bahasa emotinesia[5], dan gaya bahasa lainnya yang tak kalah visioner  tentunya. Jadi, Om Taufik dan Koh Gie, pernyataan-pernyataan anda sudah  kami buktikan dengan apa yang kami lakukan. Hidup Budaya Literasi! Hidup &lt;i&gt; Acacil&lt;/i&gt;![6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1] Koh Gie &lt;i&gt;gabrish&lt;/i&gt; beud deh, &lt;i&gt;gaul british&lt;/i&gt;... xixie...&lt;br /&gt;2] Yang jadi permasalahan Indonesia tuh, kapan SNSD pentas di Semarang??? T_T&lt;br /&gt;3] Asal ada pulsa atau sinyal wi-fi buat online.. Online...online... Om Saykoji gokil... :D&lt;br /&gt;4] KegH gNi niCh, baSa Ind4LaYNesi4. Quwh sBnRX ilPilh beUd makeNa, tP Lm2 Luthu juJa..xexe..&lt;br /&gt;5]  Nggak tahu bahasa emotinesia? Capek deh, --". Kaya ini hlo bahasanya,  --" atau o_O trus ^^, ada lagi #_#, banyak deh pokoknya. Hidup Capit  Lobster! V.n.V&lt;br /&gt;6] Acacil = Agent of Change Alay, Culun dan Labil, gokil abis nggak tuh? u_O xoxo..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2739630960522967237?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2739630960522967237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/acacil.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2739630960522967237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2739630960522967237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/acacil.html' title='Acacil'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vODAPuDE-N4/TeQEpscDT2I/AAAAAAAAAFk/x_gkOILmkE8/s72-c/Diesel_Be_Stupid_Advertisement_Craziness_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5652717639857072865</id><published>2011-05-25T19:03:00.005+07:00</published><updated>2011-05-31T01:26:38.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Membaca Gejala</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;sedang kami masih berjubel pada tintatinta buku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;berdiam di kotak alat tulis menunggu perintah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[Mimpi di Jemuran - Ganjar Sudibyo]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi  Ganz dalam Simtom-Simtom Sebelum Penyair seakan-akan mengajak pembaca  menikmati langit. Tapi, bukan memuisikan langit. Langit, dalam makna  apapun, acapkali menjadi sumber inspirasi puisi. Langit adalah tempat  yang luas dan tinggi. Mengapa luas&amp;nbsp;? Karena langit—terlihat—mampu  melingkupi bumi, tempat manusia berpijak. Mengapa tinggi&amp;nbsp;? Karena ada  gravitasi. Keindahan langit (sepertinya) tak bisa disangkal lagi. Entah  sejak kapan, manusia mengagumi langit. Awan yang bergerak, bintang di  malam hari, bulan, purnama, matahari menginspirasi, apalagi  menginspirasi. Banyak lagi menginspirasi, bahkan di luar yang bisa  disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El, itu juga langit. Eli, itu yang berasal  dari langit. Manusia diciptakan Tuhan. Tuhan itu yang berasal dari  langit. Tuhan Maha Esa, Tuhan Maha Suci, Tuhan Maha Kuasa. Sederhananya,  Tuhan Maha Segalanya. Mungkin. Tuhan bisa jadi Eli, yang berasal dari  langit. Saya berasal dari Blora, saya menggunakan bahasa Jawa dan bahasa  Indonesia. Tuhan berasal dari langit, Tuhan menggunakan bahasa langit.  Tuhan memang&amp;nbsp; Maha Segalanya, tentu saja Tuhan Maha Mengasihi dan  Menyayangi. Tuhan juga Maha Sombong, tapi Tuhan juga Maha Mengerti.  Tuhan yang Maha Baik Hati menciptakan kitab suci untuk  manusia—ciptaannya yang ia sayangi. Kitab suci sebagai pedoman hidup di  dunia dibuat tuhan—konon melalui perantara manusia—dalam bahasa manusia.  Bahasa bumi, lebih mudahnya. Tuhan Maha Mengerti, ah, Tuhan memang Baik  Hati berkenan menciptakan kitab suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi Ganz  yang Mata, saya menangkap semacam-apa-yang-biasa-disebut-kitab-suci.  Mata, adalah jendela/pintu/lubang ventilasi—sama saja sebenarnya—jalan  masuk cahaya ke tubuh manusia. Jalan masuk ilmu pengetahuan dari  Tuhan—dalam kitab suci—ke dalam hidup-kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tak letih kau memandangi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;puisi yang sama lantaran&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tak pernah kauhabiskan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;untuk dibaca&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangi  bisa berarti membaca, bisa berarti belajar mempelajari. Belajar tentang  hidup-kehidupan, konon, tak akan pernah selesai. Kata puisi dalam puisi  Mata adalah metafora, saya menangkap dengan malu-malu sebagai kitab  suci. Saya semestinya sering malu, saya harus besar kemaluan karena saya  manusia yang dhaif. Begitu kata ibu saya. Ibu saya itu setiap hari  makan nasi dari padi, semakin tua semakin menunduk. Tapi, saya masih  membaca kata puisi dalam puisi Mata Ganz sebagai sebuah metafora, kitab  suci. Membaca puisi yang sama. Membaca kitab suci pun sama. Membaca  kitab terjemahan pertama dari bahasa langit bisa jadi tak pernah  selesai. Mungkin karena Maha-nya Tuhan masih kental terkandung di  dalamnya. Atau manusia terlalu dhaif untuk terus membaca. Tapi bagaimana  pun, manusia diciptakan Tuhan dengan diberi—atau agar terdengar lebih  sakral sebut saja dianugerahi—mata. Manusia semestinya terus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NHPk-j75efM/TePeBV3VIuI/AAAAAAAAAFE/r6xoin9_TFI/s1600/247598_1807962524944_1416379967_31562635_3086733_n.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-NHPk-j75efM/TePeBV3VIuI/AAAAAAAAAFE/r6xoin9_TFI/s320/247598_1807962524944_1416379967_31562635_3086733_n.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi, belajar tentang langit yang tinggi itu bisa jadi sangat melelahkan. Untuk mencapai puncak Menara &lt;i&gt;Canadian National-railway&lt;/i&gt;,  manusia lebih memilih menggunakan lift daripada meniti 1776 anak  tangganya. Dasar manusia sekarang! Padahal, kata banyak kalangan meniti  anak tangga itu lebih sehat. Mempelajari bahasa langit yang konon juga  bisa membuat manusia selamat dunia akhirat sehat juga.&amp;nbsp;“Tapi, Prof,  Langit itu terlalu tinggi. Terlalu awang-awang.” kata manusia yang malas  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melihat Lukisan dengan Merdu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  puisi dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair Ganz Pecandukata mengajak  pembaca menikmati hal-hal dengan cara berbeda. Kreatif dan tidak  apa-apa. Sebab, manusia itu berbeda-beda. Setiap manusia mempunyai  cara-cara masing-masing untuk urusan selera. Monalisa itu erat dengan  Leonardo da Vinci di pikiran awam. Konon, Monalisa itu versi perempuan  dari Leonardo da Vinci. Monalisa itu lukisan. Ganz nakal—atau saya  pembaca yang terlalu mudah &lt;i&gt;dikadali&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tak bosan-&lt;/i&gt;&lt;i&gt;bosannya kau melukis, menyekap dirimu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bersama notasi-notasi yang selalu merias dirinya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sehingga kau tak lagi terjebak dalam kemolekan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ketika seorang &lt;/i&gt;&lt;i&gt;penganyam&lt;/i&gt;&lt;i&gt; nada menjumputnya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  musik di lukisan Monalisa, pikirku—dengan menggaruk-garuk pelipis.  Ternyata Monalisa ini bukan yang Leonardo da Vinci. Ternyata Monalisa  ini adalah yang Robert Paulsson atau siapa. Saya kerapkali kesulitan  mengingat nama pacar saya, apalagi nama yang saya jarang temui, Robert  Paulsson misalnya. Monalisa ini ternyata adalah  lagu/musik/irama/dentingan gitar—apa sajalah istilahnya. Merdu juga,  pikirku—sambil tersenyum di depan Youtube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu merdu. Lukisan itu indah, pemandangan juga. Perempuan itu &lt;i&gt;bohai&lt;/i&gt;,  &amp;nbsp;cantik—saya sedang belajar menjadi sopan. Juga puisi. Puisi itu puisi.  Entah itu puisi berkali-kali kunyah, atau bahkan puisi sekali baca  buang. Puisi itu indah. Iya, puisi itu indah. Pasti. Seperti puisi-puisi  Ganz dalam Simtom-simtom Sebelum Penyair ini, mencapai keindahan yang  tinggi. Ganz berhasil dalam hal ini. Tapi, bagaimana pun juga, semua  yang tertuliskan ini, muncul di kepala saya setelah membaca  Simtom-simtom Sebelum Penyair. Saya jadi ingin membayangkan bagaimana  jika sesudah penyair. Keindahan langit. Bisa jadi memang benar, tangan  kanan kamus dan ensiklopedi dan tangan kiri buku puisi—tentu setelah  rokokku aku sandarkan ke asbak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)&lt;i&gt; oleh Janoary M Wibowo, tulisan yang digunakan sebagai pintu  diskusi dalam&amp;nbsp; "Forum Sastra Bulanan - Bedah Antologi Simtom-simtom  Sebelum Penyair karya Ganz Pecandukata " 25 Mei 2011.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NHPk-j75efM/TePeBV3VIuI/AAAAAAAAAFE/r6xoin9_TFI/s1600/247598_1807962524944_1416379967_31562635_3086733_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5652717639857072865?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5652717639857072865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/sedang-kami-masih-berjubel-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5652717639857072865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5652717639857072865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/sedang-kami-masih-berjubel-pada.html' title='Membaca Gejala'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NHPk-j75efM/TePeBV3VIuI/AAAAAAAAAFE/r6xoin9_TFI/s72-c/247598_1807962524944_1416379967_31562635_3086733_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8161893172086043050</id><published>2011-05-22T13:15:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T03:16:39.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Jangan Cuci Muka Dulu</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Ajari aku mendedah kata menjadi bahagia,&lt;br /&gt;atau menenun rasa menjadi senyum,&lt;br /&gt;agar aku tak tersesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tiap kali jemari berpaut&lt;br /&gt;Ada yang semacam luput dari bayang&lt;br /&gt;Ada yang sekilas datang lalu selekas pula hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari aku menulis sajak cinta yang sederhana,&lt;br /&gt;atau menulis risalah rindu yang bertemu,&lt;br /&gt;agar aku tetap dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tiap kali matari bersinar&lt;br /&gt;pendarnya semacam tak rela berpeluk tanah&lt;br /&gt;pendarnya sekali menunduk lalu selamanya menengadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari aku menjadi debu,&lt;br /&gt;tetap menempel di ujung alismu&lt;br /&gt;sampai nanti kita pulang,&lt;br /&gt;bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8161893172086043050?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8161893172086043050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/jangan-cuci-muka-dulu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8161893172086043050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8161893172086043050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/jangan-cuci-muka-dulu.html' title='Jangan Cuci Muka Dulu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3500965272023511402</id><published>2011-05-16T01:36:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T01:41:28.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Menari dan Menggeliat</title><content type='html'>Asbak merah itu sudah berisi tiga putung rokok ketika dua orang itu  duduk di meja 11. Seperti mengatakan bahwa ada orang-orang yang telah  merampungkan Sabtu malamnya. Padahal saat itu, mereka sedang mengawali  Sabtu malam. Memang sudah terlalu larut untuk memulai. Jam dinding di JR  Coffee menunjukkan pukul setengah sebelas. Bukankah Sabtu malam malam  yang panjang? Dan untuk menemani malam panjang itu, Adam dan Jehan  memesan dua cangkir coklat hangat. Sebungkus rokok Polo Mild dikeluarkan  Adam dari saku jaketnya. Dia ambil sebatang. Lalu dia sulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku bingung memetakan masalah-masalah ini,” kata Adam, sembari menghisap rokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah yang mana?” tanya Jehan, dengan rokok yang terapit di antara kedua bibir dan pemantik di tangan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang  semua ini, aku sudah lelah merasa bekerja sendirian. Teman-teman yang  pernah berjanji bekerja sama kini telah ingkar. Mereka mau bekerja sama  di mulut saja. Ya, ya, ya tapi aksinya &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; ada.” Adam  menunduk, menatap ujung rokok yang dia mainkan di tangan kanannya.  Tangan kirinya mengusap dahi. Masalah selalu setia menemani perjalanan  hidup setiap manusia. Dan, sepertinya malam ini, selain oleh Jehan, Adam  ditemani masalah-masalah tentang organisasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar  keluh Adam, Jehan tertawa kecil. Sebagai salah satu senior di  organisasi itu, Jehan memahami masalah apa saja yang mungkin terjadi.  Paling cuma begitu-begitu saja, pikirnya. Namun, di lain sisi, Jehan  mencoba memahami bagaimana posisi Adam saat ini. Jaman yang terus  bergerak selalu menghasilkan masalah-masalahnya sendiri. Walau Jehan dan  Adam berkembang di ruang yang sama, tapi mereka mengalami masa yang  berbeda. Cara memandang masalah pun berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aku  tak punya lagi teman berbincang. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab  atas masalah-masalah itu, tapi aku tak rela dibebani tanggung jawab itu  sendirian. Bukankah organisasi ini milik bersama?” keluh Adam. Rokoknya  telah gentas. Ia hempaskan puntungnya ke asbak. Perlahan ia menghirup  coklat hangatnya, mungkin untuk menghilangkan aroma rokok yang  tertinggal di langit-langit mulut. Mungkin untuk membantunya menelan  kembali keluhan-keluhan yang baru saja ia lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semestinya  masalah-masalah itu menjadi ruang untukmu belajar. Carilah solusi.”  Jehan mengajak Adam melihat dari sisi yang lebih positif. Masalah itu  mendewasakan. “Konon, Nietszche mengatakan apa yang tak membunuhku  membuatku lebih kuat,” lanjutnya, berusaha mencari kutipan motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang  bayangkan seperti ini. Ketika kami bermusyawarah, semua orang diam. Aku  ingin musyawarah tetap berjalan, biasanya mencoba mengawali  pembicaraan, membuka bahan obrolan. Namun, setelah aku selesai bicara,  tidak ada tanggapan. Musyawarah apa itu?” Ada nada kekesalan muncul dari  perkataan Adam, tapi Jehan menangkapnya sebagai sebuah semangat.  Semangat yang tidak menemukan tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat aku  memutuskan diam, menunggu seorang lain memulai musyawarah, semua diam.  Sesaat setelahnya, mereka berbincang tentang masalah di luar tema  musyawarah. Lalu untuk apa mereka datang ke musyawarah? Keadaan semacam  itu yang tak membuatku nyaman.” kata Adam, sebelum mengambil sebatang  lagi rokok, lalu menyulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-DgTxMilKEjA/TePkrhrSv-I/AAAAAAAAAFI/5lLSfF85Cks/s1600/eng_smoking_1_BM_Ba_728821p.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-DgTxMilKEjA/TePkrhrSv-I/AAAAAAAAAFI/5lLSfF85Cks/s320/eng_smoking_1_BM_Ba_728821p.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;****&lt;br /&gt;Coklat panas  masih nyaman berada di cangkir, tak ada yang tumpah—berkurangnya  hanyalah karena coklat itu diminum. Satu-satunya yang tumpah di meja itu  adalah keluh kesah dari kepala Adam, tapi tak satupun keluh kesah itu  mengurangi kegelisahan dari kepalanya. Puntung rokok di asbak semakin  bertambah. Tak ada nada ketenangan yang bertambah yang keluar dari mulut  Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jehan membenarkan letak kacamatanya, lalu tertawa  kecil. “Menurutku, merpati itu lambang perdamaian. Sebab, merpati itu  menyimbolkan media komunikasi. Perselisihan atau ketidaknyamanan yang  terjadi di antara orang-orang itu terjadi karena kurangnya komunikasi.”  kata Jehan, sedikit beranalogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merpati pos pengantar surat itu?” tanya Adam, mencari kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,  menurutku seperti itu. Mungkin masalah-masalah yang kauhadapi itu akan  menemukan titik terang jika kau mulai menjalin komunikasi dengan  teman-temanmu. Ajak mereka berbincang, semeja dalam keadaan yang nyaman.  Santai, kaya di pantai.” Jehan mulai mengusulkan sebuah solusi. Jehan  sepertinya tak ambil pusing apakah usulannya diterima atau tidak, paling  tidak itu yang bisa ia katakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa  berbincang, bertemu saja jarang. Sepertinya semua orang sudah tak ingin  berkomunikasi. Sepertinya organisasi ini tak punya misi dan visi. Hanya  asal bergerak.” Adam kembali memasukkan obrolan ke masalah-masalah itu.  Solusi semestinya dicari setelah semua masalah terpetakan. Adam merasa  belum semua masalah terkatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku jadi ingat, beberapa hari lalu seorang temanku menulis tentang menari dan menggeliat.” Jehan menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menari dan menggeliat?” tanya Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,  menari dan menggeliat. Walau temanku tersebut belum rampung menulis,  tapi judulnya sudah membuatku berpikir. Aku menemukan sesuatu hanya dari  judul tulisannya. Sekarang ini, banyak orang yang terjebak di antara  menari dan menggeliat. Menari itu ketika kita merencanakan setiap  gerakan dan mempunyai maksud mengapa kita bergerak seperti itu. Sedang  menggeliat itu bergerak sekenanya, sebisanya. Tanpa rencana tanpa  tujuan. Banyak yang merencanakan gerakan tapi kemudian asal gerak.  Rencana tidak dipegang kuat. Bukankah kondisi itu tidak bisa dimasukkan  ke dalam menari maupun menggeliat? Ngambang.” Jehan mengambil bungkus  rokok, membukanya, lalu menutupnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak jadi merokok?” tanya Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kan rokokmu, aku tidak ingin menuntaskan apa yang tidak semestinya aku tuntaskan.” kata Jehan sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah,  ambil saja. Hanya rokok.” Adam menghempaskan rokok terakhirnya di  asbak, lalu menghirup coklat hangatnya. Sebatang terakhir dalam bungkus  itu ia keluarkan setengah, lalu ia sorongkan bungkus itu ke arah Jehan.  Jehan mengambilnya, lalu menyulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung saja rokok yang kauminta aku menuntaskannya, bukan masalah-masalahmu itu.” kelakar Jehan. Mereka berdua tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara  rokok dan masalah jelas ada perbedaan, salah satunya adalah mungkin  kita bisa meminta atau membiarkan orang lain menuntaskan rokok terakhir  kita. Sedangkan masalah, bagaimanapun kita berbagi kepada orang lain,  satu-satunya yang bisa menuntaskan adalah diri kita sendiri. Adam  mencoba memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rokok sudah habis, tapi aku masih  bingung memetakan masalah-masalah ini untuk menemukan solusi.” Sabtu  malam Adam sepertinya masih akan dipenuhi perenungan tentang  masalah-masalah yang dia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asbak merah itu hampir  penuh dengan puntung rokok. Dua cangkir coklat hangat sudah hampir  tandas, sudah dingin. Adam dan Jehan beranjak dari meja 11. Jehan  berjalan ke bar, mengeluarkan selembar uang. Mereka lalu beranjak  pulang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Adam bertanya “Apakah  yang terjadi jika aku keluar dari organisasi ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jehan  menghisap rokoknya, lalu membuang puntungnya ke tanah. Menginjaknya.  “Tidak ada yang akan terjadi. Mereka akan punya masalah baru. Kau akan  kehilangan tantangan dari organisasi ini.” kata Jehan. Adam terus  berjalan. Langkahnya tak berubah. Adam ingat apa yang ia baca beberapa  hari lalu, tentang seorang pendaki gunung. Pendaki gunung itu berkata,  “Jika mendaki gunung tak memberiku tantangan, aku tak akan pernah  melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam dan Jehan telah merampungkan Sabtu malam. Walau Adam tahu—Jehan pun merasa—ada yang belum tuntas di Sabtu malam kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3500965272023511402?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3500965272023511402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/menari-dan-menggeliat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3500965272023511402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3500965272023511402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/menari-dan-menggeliat.html' title='Menari dan Menggeliat'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-DgTxMilKEjA/TePkrhrSv-I/AAAAAAAAAFI/5lLSfF85Cks/s72-c/eng_smoking_1_BM_Ba_728821p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1540228658652215749</id><published>2011-05-08T01:24:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T03:26:56.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Terakhir Untukmu</title><content type='html'>Telah kutulis puisi sekali telan&lt;br /&gt;tentang kerinduan dan keresahan&lt;br /&gt;yang entah aku sendiri pun tak tahu&lt;br /&gt;kapan akan berhenti menghujami dada kita.&lt;br /&gt;Bacalah dengan lirih&lt;br /&gt;di sekian menit menjelang tidurmu&lt;br /&gt;ketika langit tak lagi senja yang menenangkan&lt;br /&gt;galau kemaraumu&lt;br /&gt;Telah pula kulukiskan untukmu,&lt;br /&gt;dermaga&lt;br /&gt;tempat perahu-perahu rela selamanya berlabuh&lt;br /&gt;menunggu tenggelam.&lt;br /&gt;Pandangilah dengan seksama&lt;br /&gt;di sepanjang terjagamu&lt;br /&gt;sebelum pagi melelapkanmu di samping cahaya&lt;br /&gt;yang tak butuh sekedipan untuk melenyap.&lt;br /&gt;Maka,&lt;br /&gt;ijinkan aku mendendangkan sajak terakhir&lt;br /&gt;tentang awan dan tetes hujan&lt;br /&gt;yang berpelukan&lt;br /&gt;yang cepat atau lambat&lt;br /&gt;akan berai berkejaran&lt;br /&gt;menuju atap-atap rumah&lt;br /&gt;menuju tanah&lt;br /&gt;menuju pipi-pipi kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyembunyikan air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1540228658652215749?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1540228658652215749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/sajak-terakhir-untukmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1540228658652215749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1540228658652215749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/sajak-terakhir-untukmu.html' title='Sajak Terakhir Untukmu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8024147426986610444</id><published>2011-05-06T23:35:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:38:06.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Dari Perempuan Ke UFO</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;*notulensi Bincang-Bincang Minggu #5 Open Mind Community 1 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat  dari feminisme, sepuluh laki-laki dan dua perempuan berkumpul di Wisma  Driyarkara, Dr. Cipto. Open Mind Community menyelenggarakan BINCANG  BINCANG MINGGU #5, bertajuk SAATNYA LAKI-LAKI BICARA. Ya, sepertinya  laki-laki memang harus mulai bicara. Seperti mitologi tentang laki-laki  dan perempuan pertama, Adam dan Hawa. Hawa yang tergoda oleh iblis, Adam  yang diam saja menyaksikan Hawa digoda Iblis. &lt;em&gt;The Silent Adam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya  cerita, manusia keturunan Adam bergulat dengan iblis tersebab  keteledoran Hawa yang membiarkan dirinya tergoda. Konon kala itu, Hawa  dan Adam sedang bercengkerama di Taman Eden, di bawah sebuah pohon  pengetahuan. Pohon buah Kuldi, pohon buah Apel. Iblis yang merupa ular  merambat di pohon, mendekati Hawa, menggodanya agar menelan buah itu.  Hawa tergoda, Adam diam saja. Mengapa Adam membiarkan hal itu terjadi?  Pertanyaan itu dilemparkan oleh Purwono Nugroho Adhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho  menjawab laki-laki yang jatuh cinta selalu lemah di hadapan perempuan.  Mungkin Hawa merajuk pada Adam, katanya. Sandra Palupi menambahi,  mungkin Adam tidak mau bertanggung jawab atas apa yang mungkin terjadi  setelah itu. Adam diciptakan untuk berkuasa di Taman Eden. Adam  mengetahui apapun di sana. Diskusi sejenak berhenti. Mungkin para  peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan itu, mungkin para peserta  berpikir mengapa pula pertanyaan itu perlu dijawab. Diskusi selalu penuh  kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung Hima berbicara, mengutarakan  kemungkinan lain membicarakan Silent Adam dari sudut perempuan. Ya,  perempuan, menurut Agung Hima, hanya bisa dibaca 5 tahun. Antara 18-23  tahun, perempuan beranjak dewasa, aktif, dan sibuk mencari jati diri.  Itulah perempuan bisa dibaca, asyik dibaca. Setelah itu, perempuan masuk  dalam fase membosankan. Perempuan sebagai istri, sekitar umur 30 tahun,  seperti sudah terpetakan. Perempuan mengurusi rumah, minta jatah atau  banyak hal membosankan lainnya. Pendapat Agung Hima kerapkali  provokatif. Mungkin kaitan yang dimaksud dengan The Silent Adam adalah  mengapa memikirkan Adam dan Hawa? Hawa sudah masuk fase membosankan.  Feminisme membosankan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sepertinya perempuan belum  membosankan untuk dibicarakan. Ya, merujuk pada penjelasan Purwono  Nugroho Adhi, tuhan itu bersifat laki-laki. Mikael misalnya, nama itu  berasal dari bahasa ibrani kuno. /mi/ berarti siapa, /ka/ itu seperti,  dan /el/ itu yang dari langit—tuhan. Jadi, nama Mikael berarti yang  seperti tuhan. Mikael sendiri kerap kali digambarkan sebagai ksatria  perang yang bertampang garang. Ya, tuhan itu cenderung bersifat  laki-laki. Dan itulah sebenarnya akar dari gerakan feminisme, misandry.  Dominasi kekuasaan laki-laki, kekuasaan tuhan. Feminisme terus mengejar  persamaan derajat antargender. Sampai sekarang, itu masih hangat, masih  jauh dari fase membosankan.&lt;br /&gt;Ganjar Sudibyo, atau lebih dikenal  dengan Ganz Pecandukata, mengeluarkan argumennya. Feminisme itu ibarat  hero, jagoan. Terlambat datang lalu menang. Setelah feminisme mencuat,  misandry—dalam hal ini lebih ke sifat kelaki-lakian—menjadi peran  antagonis. Laki-laki selalu menjadi musuh yang kalah di gerakan  feminisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi sempat terhenyak ketika mas Ompong berbicara, “Itu semua kan ditarik dari pemikiran &lt;em&gt;londo&lt;/em&gt;.  Padahal, dalam pemikiran Jawa Kuno, tidak ada permasalahan antara  laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan memahami perannya  masing-masing dan bekerja sama dengan baik.” Feminisme itu warisan &lt;em&gt;londo&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;londo &lt;/em&gt;Jerman, &lt;em&gt;londo &lt;/em&gt;Perancis, &lt;em&gt;pokoke londo.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan &lt;em&gt;londo &lt;/em&gt;atau warisan &lt;em&gt;mbahe dhewe&lt;/em&gt;, feminisme selalu berdasar pada &lt;em&gt;androgini&lt;/em&gt;,  semangat untuk meruntuhkan kekuasaan/dominasi laki-laki. Bukan sekedar  jenis kelamin, tapi posisi. Sejak jaman mitologi, posisi laki-laki  selalu mendominasi, “Tapi sekarang, eranya feminisme. Semua orang  membicarakannya.” kata Purwono Nugroho Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janoary M  Wibowo mulai angkat bicara. Kali pertama ia bercerita tentang  kecenderungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki berkecenderungan pada &lt;em&gt;competition-based&lt;/em&gt;,  pola pikirnya berdasar pada persaingan. Siapa yang mendapatkan wanita  tercantik, siapa yang mendapatkan posisi puncak. Sedangkan perempuan,  lebih cenderung mendasari pola pikirnya pada &lt;em&gt;compassion-based—&lt;/em&gt;belas  kasih dan cinta. Namun, dalam perkembangannya kini, kecenderungan sikap  laki-laki dan perempuan semakin kabur. Laki-laki tak selalu  mendominasi. Siapa yang ada di puncak tak selalu menang dalam  persaingan. “Mungkin ini era post-gender,” kata Janoary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asal Usul Manusia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diskusi berlanjut. Musyafak Timur Banua kini yang angkat bicara. “Jangan-jangan &lt;em&gt;competition-based&lt;/em&gt; itu bukan milik laki-laki, pun &lt;em&gt;compassion-based&lt;/em&gt;  bukan milik perempuan,” curiganya. Musyafak mengisahkan tentang  bagaimana dulu Adam tercipta. Adam, seperti yang pernah dia baca,  menjadi semacam korban dalam konspirasi besar. Tuhan dan Iblis semacam  melakukan persekongkolan untuk memuluskan rencana, Adam menjadi khalifah  di dunia ini. Adam, dalam runtutan logika itu, semestinya menjadi  berkuasa. Sebab, untuk menjadi khalifah, sudah barang tentu Adam  mempunyai segala ilmu. Semua ilmu. Namun, seperti yang para penyair  sering tuangkan dalam larik-lariknya, perjuangan pertama dan terhebat  manusia adalah melawan kesepian. Iya, melawan kesepian. Itulah mengapa  Adam merelakan tulang rusuknya untuk menjadi teman. Teman berkuasa di  dunia ini. Keduanya—laki-laki dan perempuan—bisa dianggap sebagai  penguasa atau malahan korban di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi  pemetaan historis dari asal-usul manusia dan monotheisme hanyalah  rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Mitos-mitos semuanya sama. Dari  kitab kuning—yang konon kitab paling kuno—sampai cypher dan tablet dari  jaman Sumerian, semua bercerita tentang hal yang sama. Kisah Musa yang  dibuang ke sungai, Karna dalam budaya Jawa pun mempunyai kisah yang  sama. Achilles yang mempunyai kelemahan di pergelangan kaki, pun mirip  dengan Antasena. “Itu adalah ilmu untuk semua manusia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurniawan  Yunianto langsung mengangkat pembicaraan ke ranah yang lebih tinggi.  “Apa yang dikatakan Musyafak menjadi alasan mengapa beberapa tahun lalu  aku memutuskan untuk tidak bertuhan,” kata penyair berambut gondrong  itu. Begitu banyak versi cerita tentang tuhan, kitab kuno atau apalah,  bagi saya semua itu bullshit, lanjutnya. Setiap orang akan menuliskan  kitab sucinya sendiri dalam hatinya sendiri. Sebab, diri sendiri lah  yang memutuskan kebenaran-kebenaran mana yang akan diyakini, entah itu  omongan &lt;em&gt;mbah&lt;/em&gt; ini, pak guru itu, &lt;em&gt;om&lt;/em&gt; ini, siapapun itu.  Kita yang memutuskan siapa yang kita percaya. Pada akhirnya, apa yang  kita yakini berpusat pada diri sendiri. Seperti kita tahu malam dengan  mempelajari siang, saya merasa beruntung pernah merasakan tidak  bertuhan. Dengan menyadari diri sendiri dengan sepenuhnya, saya sekarang  bisa yakin mengatakan bahwa tuhan itu ada. Manusia bisa menahan untuk  tidak tidur, tapi manusia tak akan mampu menolak datangnya rasa kantuk.  Juga rasa lapar dan haus. Lalu siapa yang mendatangkan rasa-rasa itu?  Bisa jadi itulah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kita membicarakan feminisme,  selalu besar kemungkinan kita berujung pada spiritualitas,” Musyafak  melanjutkan pernyataan Kurniawan. Bagaimana manusia merindukan belas  kasihan, kasih sayang, juga perlindungan Tuhan bisa diibaratkan seperti  seorang anak yang merindukan belas kasihan, kasih sayang, juga  perlindungan ibunya. Seorang perempuan. “Spiritualitas kerapkali disebut  sebagai &lt;em&gt;hug of heaven&lt;/em&gt;,” sambung Purwono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam  dan Hawa di bawah sebuah pohon di Taman Eden, memakan buah apel—dalam  mitologi lain ada yang menyebutnya buah kuldi atau buah pengetahuan.  Pohon itu adalah pohon pengetahuan. Mungkin itu yang disebut pohon  kehidupan. Istilah Tree of Life sendiri muncul pertama kali pada jaman  Babylonia Talmud. Tablet pertama yang ditemukan di jaman itu  bergambarkan dua manusia yang mengapit sebuah pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  yang mendiami Bumi sekarang ini hampir mendekati jumlah 7 milyar jiwa.  Ya, jiwa-jiwa itu semua beda satu sama lain, mempunyai karakteristiknya  sendiri-sendiri. Apakah Tuhan merancang semuanya? “Jumlah itu yang masih  hidup, berapa jumlah jiwa yang ada sejak jaman Adam pertama kali  menginjakkan kaki di Bumi?” tanya Kurniawan, retoris. Mungkin di situlah  peran pohon kehidupan, jiwa-jiwa manusia itu ibarat daun. Tumbuh pada  cabang-cabangnya. Makin hari pohon itu makin rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img class="img" height="286" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/222222_1506086230382_1781096020_895553_6641245_a.jpg" width="320" /&gt;“Ada kalangan yang &lt;em&gt;ngoyo-woro&lt;/em&gt;,  mengada-ada tentang pohon kehidupan,” kata Purwono. Gambar yang nampak  di tablet itu memang tidak sempurna mirip pohon. Ada yang menafsirkannya  sebagai sinar UFO; unidentified flying object, alien. Itulah mengapa  muncul sekte Scientologi, yang menunggu UFO datang kembali. Ada kalangan  yang menunggu Yesus turun lagi ke Bumi, ada kalangan yang menunggu Imam  Mahdi. Lalu kalangan scientologi menunggu UFO. Aneh.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tidak  ada yang aneh,” tiba-tiba Janoary bersemangat. “Jika pemetaan historis  monotheisme adalah rasionalisasi dan radikalisasi mitologi. Dan  mitologi, bagaimanapun juga tak seorangpun mengetahuinya dengan pasti,  jangan-jangan memang benar, kita itu hewan yang diajari menjadi rasional  oleh UFO.” lanjutnya. Bukankah sudah sering kita mendengar kalimat  ‘manusia adalah hewan yang rasional’? Bayanganku seperti ini, pada jaman  manusia pra sejarah ada alien yang berperadaban tinggi datang ke bumi.  Dia mengajarkan manusia pra-sejarah itu tentang rasio. “Jika penciptaan  alam semesta itu selama tujuh hari, mungkin waktu kursus manusia pada  alien itu selama tujuh hari pula.” Janoary mulai kemana-mana. “Logis &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; ?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua  orang mulai tertawa, diskusi semakin panas dan semakin kemana-mana.  Namun, bukankah memang begini semestinya diskusi berjalan. Semua orang  saling mengeluarkan isi kepala. Bahkan imajinasinya. Tidak ada yang  tidak mungkin. Agung Hima mengeluh, “&lt;em&gt;Wes duwe anak limo kok ternyata soko UFO&lt;/em&gt;.” Semua kembali tertawa. Jano mulai &lt;em&gt;kenthir&lt;/em&gt;, Agung &lt;em&gt;nambahi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurniawan melemparkan kayu ke api, “&lt;em&gt;Teruske sampe kenthir tenanan&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyafak menuangkan minyak ke api, “&lt;em&gt;Iyo, kenthir po waras ora masalah. Sing penting ojo setengah-setengah&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Grakgrek Opem Mind Community.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8024147426986610444?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8024147426986610444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/dari-perempuan-ke-ufo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8024147426986610444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8024147426986610444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/dari-perempuan-ke-ufo.html' title='Dari Perempuan Ke UFO'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-6420177623775801022</id><published>2011-05-02T01:33:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:35:06.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Perempuan Datang Naik UFO</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Perempuan&lt;br /&gt;Oh, perempuan&lt;br /&gt;Aku memikirkanmu,&lt;br /&gt;wahai perempuan yang turun&lt;br /&gt;dari piring terbang&lt;br /&gt;Tak perlu membawa buah tangan,&lt;br /&gt;apalagi kegilaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara tentang surga&lt;br /&gt;melayang-layang kemana-mana&lt;br /&gt;Terlalu lama, terlalu lama,&lt;br /&gt;terlalu lama,&lt;br /&gt;juga terlalu tua untukku&lt;br /&gt;Aku muda,&lt;br /&gt;aku cinta,&lt;br /&gt;aku menggilaimu,&lt;br /&gt;wahai perempuan yang turun&lt;br /&gt;dari piring terbang&lt;br /&gt;Bawakan saja aku apel,&lt;br /&gt;bawakan aku apel&lt;br /&gt;Sebab, ular itu terus berdesis di dalamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan&lt;br /&gt;Oh, perempuan yang turun&lt;br /&gt;dari piring terbang&lt;br /&gt;Tak perlu membawa buah tangan,&lt;br /&gt;apalagi kegilaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab pertanyaanku&lt;br /&gt;yang belum bisa dijawab ibu,&lt;br /&gt;"Mak, dari langit mana aku dilahirkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-6420177623775801022?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/6420177623775801022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/perempuan-datang-naik-ufo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6420177623775801022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6420177623775801022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/05/perempuan-datang-naik-ufo.html' title='Perempuan Datang Naik UFO'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-6796379795046462881</id><published>2011-04-30T23:40:00.001+07:00</published><updated>2011-05-31T03:41:28.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ketika Kauputuskan Berhenti</title><content type='html'>telah kita kalahkan jarak&lt;br /&gt;dengan memandang langit pagi bersama&lt;br /&gt;sudah pula kita salip detak detik&lt;br /&gt;ketika jantung berdegup seirama&lt;br /&gt;tapi belum juga tuntas kita reda kesepian&lt;br /&gt;ketika mata berpandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah kita arungkan perahu kertas&lt;br /&gt;dari hulu ke hilir yang belum kita kenal&lt;br /&gt;telah kita putuskan mendaki gunung&lt;br /&gt;walau puncak adalah kesunyian terdalam&lt;br /&gt;tapi belum juga rampung kita reda keluh&lt;br /&gt;ketika mulut berpagut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dedaunan selalu tertawa pada kekalahan&lt;br /&gt;tapi kita telah memilih menang, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-6796379795046462881?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/6796379795046462881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/ketika-kauputuskan-berhenti.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6796379795046462881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6796379795046462881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/ketika-kauputuskan-berhenti.html' title='Ketika Kauputuskan Berhenti'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7749577005675094983</id><published>2011-04-29T15:42:00.000+07:00</published><updated>2011-05-31T03:43:22.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Menanti yang Mungkin Menetes</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Di antara mendung dan hujan,&lt;br /&gt;kulangsir sepi&lt;br /&gt;awan berserakan menggelap&lt;br /&gt;seperti kata rasa meruap-ruap&lt;br /&gt;tak menemu henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kalender dan jam dinding,&lt;br /&gt;sepi sangkutkan diri&lt;br /&gt;detak berarakan berderap&lt;br /&gt;menggilas cinta benci meruak&lt;br /&gt;tak bertemu peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara aku dan kau,&lt;br /&gt;ada yang lalu lalang&lt;br /&gt;seperti ingin tapi tak segera menghilang&lt;br /&gt;Mungkin kubalik saja kalender&lt;br /&gt;kubanting jam dinding&lt;br /&gt;jika aku tak sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu beranjak keluar&lt;br /&gt;Bermain hujan di tanah lapang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7749577005675094983?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7749577005675094983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/menanti-yang-mungkin-menetes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7749577005675094983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7749577005675094983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/menanti-yang-mungkin-menetes.html' title='Menanti yang Mungkin Menetes'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1944797387442884011</id><published>2011-04-05T01:44:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:47:24.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Racau</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Tulisan (setengah fiksi) yang kacau&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu  padam lagi. Lima orang berkumpul di depan kantor Jaringan Pemuda  Pemberantas Mafia (JP2M), diantara redup pendar cahaya lilin. Harry,  Zulfa, Rohman, Irfan, dan Faris memang tak berjanji bertemu malam itu.  Tapi, sepertinya takdir telah mempertemukan mereka. Ya, mungkin  begitulah kerja takdir. Terjadi tanpa memberikan tanda jelas mengapa  harus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu masih padam. Lilin juga telah habis.  Hanya layar laptop Rohman yang menerangi. Tiba-tiba handphone Rohman  menyala, “Widy ngajak nongkrong,” katanya sembari wajahnya tetap menatap  ke layar handphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian makan malam,” sahut Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian nyari cahaya di padam malam.” seru Harry, bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Widy  minta dijemput, aku saja. Kita langsung bertemu di Angkringan Ratna  Cute Gg. Jengkol,” Rohman men-shutdown laptopnya. Satu-satunya  penerangan pun hilang. Gelap. Rohman bergegas, menghilang menembus  gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Irfan, rokok masih menyala. Juga di  tangan Faris. Harry berdiri, berjalan menuju ke kamar mandi. Sekadar  cuci muka, menyegarkan wajah setelah seharian bekerja di depan laptop.  Sesaat kemudian, Harry kembali dari kamar mandi. Rokok di tangan Irfan  dan Faris juga telah dicecak di asbak. Mereka berangkat ke angkringan.  Irfan berboncengan dengan Faris, Harry dengan Zulfa. Memang begitulah  biasanya mereka berpasangan. Zulfa tak berniat bergabung. Ada beberapa  hal yang perlu ia lakukan, katanya. Ia akan langsung pulang ke rumah  setelah mengantar Harry ke angkringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengambil tempat di samping Widy yang sudah lebih dulu tiba di angkringan. Dua &lt;em&gt;nasi kucing&lt;/em&gt;  semur bandeng dan dua tahu isi tergeletak pasrah di depannya. Menunggu  dilahap. Irfan mungkin kelaparan, karena tak biasanya dia makan dua  porsi &lt;em&gt;nasi kucing&lt;/em&gt;. Ketika Harry dan Irfan menikmati ritual  mengisi perut, Widy telah terlebih dulu berbincang dengan Rohman.  Karbohidrat, pembelahan sel, obesitas, dan beberapa hal yang mungkin aku  lewatkan masuk ke obrolan mereka. Bahkan fenomena sosial terbaru,  pernikahan Komar dan Riska. Ya, gencar sekali. Riska ternyata laki-laki.  Seru. Widy memang suka sekali bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  berenam memang jarang bertemu. Setiap kali bertemu, kami membicarakan  apapun. Mengalir. Riska yang laki-laki, anak yang setelah dilahirkan  sudah bisa mengaji, Autisme, Indigo, dan apapun yang melintas di kepala  diperbincangkan. Seperti nostalgia, kami tak peduli apa yang kami  bincangkan. Saling bercerita, saling tertawa. Kami sudah bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  kebahagiaan itu serasa bertambah ketika Amir datang. Dengan gaya  berpakaian yang cuek; kaos oblong, celana pendek, topi, dan tas ransel,  Amir mengambil tempat di antara Harry dan Widy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau  semakin sejahtera ya, Mir?” kelakar Harry, sembari mengelus perut Amir  yang semakin membuncit. Kembali, tawa meledak diantara kami.  Menghentikan sejenak obrolan yang aku tak ingat sudah sampai mana.  Mungkin juga masih di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah bisa dikatakan  gangguan jiwa, saat seseorang selalu merespon ucapan orang lain dengan  defense mechanism? Bayangkan saja, seseorang yang menerima pujian  sebagai ejekan, saran sebagai perintah?” Dengan rokok di sela-sela  jarinya, Faris mencoba melontarkan hal untuk diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada orang yang seperti itu?” tanya Widy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu ada, Tuhan kan Maha Kreatif saat menciptakan alam semesta,” tukas Harry, masih dengan tawa yang tersisa di raut wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faris  melanjutkan ceritanya. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang dimaksud  itu adalah adiknya sendiri, masih bersekolah tingkat 9. Suatu hari  ketika adiknya tersebut mencuci motornya, Faris pernah bercanda dengan  berkata, “Tumben nyuci motor.” Tiba-tiba adiknya menendang ember lalu  menghentikan kegiatan mencuci motornya. Faris merasa aneh. Sebab,  sebenarnya Faris tidak bermaksud membuat marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku  hampir setiap hari menghadapi orang seperti itu,” kata Harry. “Setiap  kali ada hal yang mengganggu emosi orang itu, dia meledak kepada  siapapun. Masalah kecil di kantor bisa membuat dia menggila di rumah.  Mengerikan.” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang labil?” tanya Widy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa  dikatakan seperti itu,” Amir mulai berbicara. Memang beberapa tahun  terakhir Amir gemar mempelajari psikologi, termasuk kepribadian  seseorang. Entah apa yang membuatnya gemar mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam  memahami kepribadian seseorang, kita tak bisa melepaskan diri dari  faktor latar belakang seseorang tersebut. Kondisi sosiokulturalnya,  lingkungan tempat dia tumbuh, juga mungkin pola didik dalam keluarganya.  Keadaan emosi seperti itu memang wajar terjadi pada remaja. Mereka  masih dalam masa perkembangan menuju kedewasaan.” jelas Amir. Selain  semakin sejahtera, Amir ternyata makin cerdas, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu bukan gangguan kejiwaan, kan?” tanya Faris, mengkhawatirkan keadaan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu  wajar di usia adikmu. Bisa ditangani dengan memodifikasi komunikasi.  Memperhalus kata-kata, adalah salah satu cara. Juga bersabar ketika  berkomunikasi dengan seseorang seperti itu.” lanjut Amir. Semakin hebat  saja temanku yang satu ini, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu  tak padam lagi. Kami bertujuh masih saja larut dalam perbincangan.  Semakin malam, pembicaraan semakin kemana-mana. Atau mungkin masih saja  di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih beranggapan bahwa dorongan  seksual pada laki-laki itu lebih besar daripada perempuan,” kata Widy,  mengajak berbincang tentang seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dorongan seksual  itu sama saja pada siapa saja. Misalnya, segelas es teh ini. Akan tetap  menjadi segelas es teh, entah diminum Rohman atau diminum kamu.” tukas  Harry, menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi laki-laki lebih cepat  melampiaskan dorongan seksual daripada perempuan,” kelit Widy, seperti  tak terima anggapannya coba dipatahkan oleh Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aksi  sama belum tentu menghasilkan reaksi yang sama. Setiap orang punya cara  sendiri untuk bereaksi pada ‘aksi’ dorongan seksual,” debat Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi  laki-laki sering onani, perempuan jarang marturbasi,” lanjut Widy,  masih belum menyerah. Mungkin karena menjadi satu-satunya perempuan  malam itu, dia merasa harus membela kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa? Jangan menuduh gitu donk,” Irfan dan Harry merasa tidak nyaman diasumsikan sering onani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masturbasi itu berasal dari dua kata. Pertama adalah &lt;em&gt;main&lt;/em&gt;,  yang berarti tangan. Yang kedua aku lupa kata tepatnya, yang kuingat  kata itu juga merupakan kata asal dari turbulence, semacam  bergerak-gerak. Jadi, masturbasi bisa berarti apapun yang  menggerak-gerakkan tangan. Pada perkembangannya, memang marturbasi hanya  diasosiasikan dengan seksualitas. Tapi, istilah masturbasi itu untuk  laki-laki dan perempuan.” Harry mencoba menjelaskan tentang etimologi  masturbasi; mencoba keluar dari bahasan laki-laki dan perempuan.  Pembahasan tentang laki-laki dan perempuan yang dilakukan laki-laki dan  perempuan akan menjadi perdebatan tak berujung. Begitu menurutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah,  bahasan mulai panas. Aku nggak ngerti banyak tentang ini. Aku pamit  saja. Ada beberapa berkas yang harus selesai dan diprint malam ini, buat  meeting besok pagi.” Amir berkelakar, memotong perbincangan.  Berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau berbicara sesuai pengalaman ya?” tanya Rohman kepada Harry, melempar candaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  bertujuh tertawa. Amir sudah beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba  Rohman juga berdiri. “Aku sekalian pamit. Baru saja rekanku sms, ada hal  urgent terjadi di proyek kami. Harus diselesaikan mala mini.” kata  Rohman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, obrolan kita rampung?” tanya Faris, kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kan aku bareng Rohman,” jawab Widy, sembari memakai jaketnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, harus berlanjut,” sanggah Rohman. “Tapi kali lain,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Vce2GZGemjE/TcReKGg8vII/AAAAAAAAAE8/fYqSORh2qbI/s1600/shadow.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="http://3.bp.blogspot.com/-Vce2GZGemjE/TcReKGg8vII/AAAAAAAAAE8/fYqSORh2qbI/s320/shadow.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  bertujuh akhirnya memutuskan untuk mengakhiri nostalgia. Amir harus  menyelesaikan berkas dan mengeprint untuk meeting di kantornya besok.  Rohman harus menemui rekannya. Widy membonceng Rohman. Irfan dan Faris  juga memutuskan untuk pulang ke kontrakan, istirahat setelah seharian  bekerja. Harry, yang tadi diantar Zulfa, berjalan kaki ke warnet  terdekat. Dia ingin menyapa teman-temannya di facebook. Aku? Aku belum  memutuskan akan kemana. Mungkin akan ke tempatku. Meracau sendirian.  Galau. Tidak kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1944797387442884011?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1944797387442884011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/racau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1944797387442884011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1944797387442884011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/racau.html' title='Racau'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Vce2GZGemjE/TcReKGg8vII/AAAAAAAAAE8/fYqSORh2qbI/s72-c/shadow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2595349097143056956</id><published>2011-04-02T22:51:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:52:27.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ihwal Persimpangan</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Jika mencintaimu adalah merajut jaring laba-laba,&lt;br /&gt;akan kurajut menjadi kenangan di bawah meja&lt;br /&gt;Jika merindukanmu adalah menangkap angin,&lt;br /&gt;akan kutulis puisi di kertas-kertas berserak&lt;br /&gt;Biarkan mereka pulang,&lt;br /&gt;kemanapun rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mencintaimu adalah perjalanan menuju,&lt;br /&gt;akankah kusampai?&lt;br /&gt;Jika merindukanmu adalah puisi tak rampung,&lt;br /&gt;akankah kusudahi?&lt;br /&gt;Akan kubiarkan mereka pulang,&lt;br /&gt;kemanapun rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melepasmu adalah menapaki jalan pulang,&lt;br /&gt;sungguh, aku tak ingin tersesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2595349097143056956?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2595349097143056956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/ihwal-persimpangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2595349097143056956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2595349097143056956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/04/ihwal-persimpangan.html' title='Ihwal Persimpangan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4479906143231801644</id><published>2011-03-31T01:50:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:51:15.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Nukilan Sebuah Perjamuan</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Sebab tanah makin sandaran&lt;br /&gt;Tak perlu takut pada kematian&lt;br /&gt;Sebab lelah yang rebah adalah yang paling puisi&lt;br /&gt;Mari kita nikmati tiap pejamnya&lt;br /&gt;Sembari mengenang lagi&lt;br /&gt;Saat kita terbahak pada api&lt;br /&gt;yang tak kunjung membakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab rencana telah menjadi doa&lt;br /&gt;Dan doa bisa menjadi apapun,&lt;br /&gt;Mari kita menjelma yang tanpa kursi tunggu&lt;br /&gt;Seperti airmata yang mesti mengalir malam ini,&lt;br /&gt;Biarkan dia menyeka ampas kopi&lt;br /&gt;dari telapak tangan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lagi menjadi pertanyaan&lt;br /&gt;Jemari siapa yang memainkah hati&lt;br /&gt;Tawa dan tangis tetaplah bertautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4479906143231801644?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4479906143231801644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/03/nukilan-sebuah-perjamuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4479906143231801644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4479906143231801644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/03/nukilan-sebuah-perjamuan.html' title='Nukilan Sebuah Perjamuan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1744098924064704009</id><published>2011-03-29T17:48:00.001+07:00</published><updated>2011-05-07T03:49:24.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hujan Selalu Reda</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;*kolaborasi Janoary M Wibowo dan M Rifan Fajrin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Hidup tak pernah terpetakan&lt;br /&gt;Seperti segelas susu yang seharga sepiring nasi&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Sebab segelas kopi dan sebatang asap pagi hari&lt;br /&gt;Setara dengan kenyang&lt;br /&gt;Apa lagi yang penting untuk diharapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Ya, setetes hujan itu&lt;br /&gt;Tetap turun&lt;br /&gt;dan sempurna menjalani takdirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Dan ketika itu&lt;br /&gt;Aku ingin tidur sejenak,&lt;br /&gt;mungkin tiga ratus tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5)&lt;br /&gt;Bahkan dalam lelap yang senyap,&lt;br /&gt;Sore bisa jadi seharga pagi&lt;br /&gt;Lalu hidup tetap tak terpetakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1744098924064704009?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1744098924064704009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/03/hujan-selalu-reda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1744098924064704009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1744098924064704009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/03/hujan-selalu-reda.html' title='Hujan Selalu Reda'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1754251712678434780</id><published>2011-02-18T00:57:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T01:05:34.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Panggung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-L3ir0Ihkp8o/TX0Grp7DPxI/AAAAAAAAAE4/uQkmNeaHkm0/s1600/panggung.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh3.googleusercontent.com/-L3ir0Ihkp8o/TX0Grp7DPxI/AAAAAAAAAE4/uQkmNeaHkm0/s320/panggung.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Aku ingin tahu darimu. Menurutmu, untuk apa kau melakukan semua ini?  Untuk apa kita melakukan semua ini? Akan kukatakan padamu apa yang baru  saja datang padaku. Kita melakukan semua ini karena dunia ini  menyedihkan, penuh penderitaan. Kita melakukan semua ini karena kita  tahu. Dan, semua orang pun tahu, entah sampai menyakini yang mereka  ketahui atau sekadar hanya mengetahui. Tapi, bagaimanapun juga, dunia  ini menyedihkan. Itu menurutku, mengapa kita melakukan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal, walau mungkin terkesan sangat dangkal dan terjadi  dalam waktu yang sangat singkat, yang membuat manusia itu sejenak keluar  dari dunia yang menyedihkan ini. Salah satunya adalah kekaguman. Ya,  kekaguman pada mimpi. Tidakkah kau lihat tatapan mereka tadi, sesaat  setelah kau mengeluarkan kelinci dari topi? Itu tipuan lama tapi tetap  mereka suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, semua orang butuh mimpi. Mimpi untuk sejenak  terkesima, menikmati kekaguman atas apa yang banyak di antara mereka tak  mampu lakukan. Dan, kitalah yang mampu melakukan. Kita memberikan  kepada mereka mimpi. Kita menjual mimpi. Ya, hanya pesulaplah yang bisa  melakukannya. Menunjukkan tepat di depan mata apa yang banyak orang tak  akan mungkin terjadi. Kita membuat hal-hal itu terjadi. Manusia terlalu  sedih dan manusia rela membayar berapapun untuk sejenak keluar dari  kesedihan. Begitu banyak hal yang mereka lalui, begitu dalam kepedihan  yang mereka selami. Untuk itulah, mereka datang ke bangku-bangku itu, di  depan panggung ini. Menyaksikan mimpi-mimpi yang terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Hudi. Dari pekan ke pekan, panggung makin sepi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena mimpi itu berlari, kawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berlari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, berlari. Yang sudah pernah terjadi menjadi tak menarik lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mimpi yang bagaimana yang masih menarik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah, Merad, kawanku. Tugas kita adalah menemukan mimpi-mimpi dan  membuatnya terjadi di depan mereka. Bukankah kita dibayar untuk itu? Ya,  dibayar dengan kesedihan-kesedihan itu. Ya, aku tak akan mengingkari  bahwa mereka memberi kita makanan, pakaian dan segalanya. Komitmen,  Merad. Ya, Komitmen pada yang memberi kita sesuatu. Hukum alam tentang  yang memberi akan menerima harus kita taati. Yang telah memberi harus  menerima. Mereka memberi yang kita butuhkan, kita beri yang mereka  butuhkan, mimpi yang terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, karena itulah, saudaraku, Merad. Kau dan aku di sini, di panggung  sepi ini. Menyiapkan mimpi untuk esok hari. Tapi, mimpi apa? Adakah yang  bisa kautemukan di kepalamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membebaskan diri di air?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lahir kapan? Itu kuno.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuh yang dipotong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masochist?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, mengapa kau mentahkan langsung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena usulanmu tak berdasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua orang suka bernostalgia,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan semua orang suka menonton darah tercecer?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jenius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang ‘dan’ tentunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan. Semua orang suka bernostalgia dan semua orang suka menonton  darah tercecer. Kita gabungkan dua trik lama, dan ciptakan hal baru.  Bukankah begitulah awal mula sebuah kreatifitas? Oh, Merad, tiba-tiba  aku ingin menciumimu. Bukan. Bukan. Maksudku menciumi kepalamu dan  kreatifitas yang dihasilkannya. “Oh, itu dari kepalaku ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurna. Peti kaca berisi air yang diputar seperti kincir. Akan memberi  kesan dramatis. Air yang tidak terlalu penuh membawa kesan logis.  Seperti mengatakan, pesulap sedang tidak berjuang membebaskan diri  sambil melawan batas kemampuan menahan napas. Tapi, pada laju pisau yang  sudah diatur kecepatannya. Pada kemiringan tertentu, kepalaku akan  tidak tenggelam. Aku masih bisa mengambil napas. Dan kondisi setengah  badan dalam air, setengahnya lagi di luar air, akan memberikan efek  patah. Seperti pensil dalam gelas. Pelajaran di sekolah dasar, Merad.  Ternyata kau masih mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga jalur pisau yang dipasang melintang, diagonal, brilian. Pisau yang  menempel di rusuk bawah akan melesat melintang ke rusuk di seberangnya.  Berbeda dengan trik potong tubuh lama yang membelah peti kaca menjadi  dua buah kotak. Pisau diagonal ini akan membelahnya menjadi dua  segitiga. Mengubah sedikit sebuah trik bisa berarti membuat trik baru.  Kau memang jenius, Merad. Aku semakin ingin menciumi kepalamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku belum tahu bagaimana kau akan membebaskan diri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan keluar dari peti kaca itu hidup-hidup tentu saja,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Biar kupikirkan. Ah, iya. Bagaimana jika tangan dan kakiku dirantai  di tiap ujung peti kaca? Jadi, hanya ada dua cara aku bertahan hidup,  meringkuk di bawah jalur pisau atau bergantung di atasnya. Tentu saja,  meringkuk lebih mudah. Karena melepaskan rantai di tangan lebih mudah  dari melepaskan rantai di kaki. Kau tahu sendiri, rekor pribadiku adalah  40 detik untuk trik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan peti yang diputar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tak menambah kesulitan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu menit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latihan, semua akan makin sempurna. Ya, semua akan sempurna. Dan  semua orang akan berlarian dari dunia yang menyedihkan menuju ke  bangku-bangku itu. Di depan panggung kita. Semua orang akan berjejalan  untuk membeli mimpi yang akan kita wujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana jika kita tambahkan warna merah pada air?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menambah ketegangan pada saat pisau melesat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya, membuat ragu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ragu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan itu melahirkan kekaguman. Bawa mereka sejenak pada kondisi  ragu. Apakah pesulap itu masih hidup? Apakah trik ini gagal? Lalu,  abakadabra, pesulap berhasil. Trik ini berhasil. Mereka terpana. Mereka  kagum. Dan setelah hentakan itu membangunkan mereka dari keraguan,  kepuasan akan mengguyur mereka lebih dari yang mereka harapkan. Itu  semua karena darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa kita melakukan semua ini, Merad? Ya, tentu saja. Untuk melihat  mereka melihat kita dan terkagum. Untuk membebaskan mereka walau  sejenak dari kesedihan mereka. Pamflet sudah tersebar ke seluruh penjuru  kota, bukan? Ah, sudah seminggu lalu ya? Itulah mengapa aku  membutuhkanmu, Merad. Aku tak perlu mencemaskan hal lain di luar  panggung ini. Berapa tempat duduk yang sudah dipesan? Setengah, ada?  Bagus, jika begitu panggung tak akan terlalu sepi. Kita akan membebaskan  banyak orang. Ya, sebentar lagi. Di balik tirai ini, kita akan  menyaksikan wajah-wajah yang terbebaskan walau sejenak. Itulah tugas  kita, sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang keluarlah, Merad. Sambutlah mereka. Sambutlah mereka yang  memenuhi ruangan ini. Keluarkan trik-trik pembuka. Lalu, siapkan  panggung untuk peti kaca itu. Jangan biarkan mereka terlalu lama  menunggu mimpi mereka terwujud. Tugas kita terselesaikan. Keluarlah,  Merad. Aku akan bersiap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam, Hadirin. Malam ini, akan kita saksikan apa yang telah  kita tunggu, sebuah mimpi yang terwujud di depan mata. Bagi yang  mempunyai trauma terhadap keadaan tenggelam, silahkan meninggalkan  ruangan. Sebab, yang akan anda sekalian saksikan sebentar lagi adalah  yang paling mencengangkan. Dari semua adegan tenggelam, inilah yang  paling membuatku cemas. Bolehkah aku meninggalkan ruangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sebelum kecemasanku menghalangiku untuk tampil, langsung saja kita lakukan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat menyaksikan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangka itu akan menjadi bukti pisau yang melesat di dalam peti kaca  itu asli. Ya, peti kaca yang nanti akan diisi air dan aku berusaha  membebaskan diri di dalamnya. Setelah aku membebaskan diri, kalian akan  terbebaskan. Ya, satu menit setelah aku masuk ke dalam peti kaca itu,  kalian akan terbebaskan. Selamat terbebaskan sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Craakkk!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau sudah melintas cepat di jalurnya, air dalam peti kaca yang  berputar sekejap berwarna merah. Darahku? Kalian tak akan tahu. Yang  kalian tahu, kalian terpana. Kalian bertanya-tanya. Kalian ragu. Kalian  ketakutan mimpi kalian tak terwujud. Apakah pisau tadi mengirisku?  Apakah aku masih hidup? Air merah itu akan dikeluarkan dari lubang di  bawah peti kaca. Pelan-pelan. Sangat pelan hingga kalian bisa merasakan  detak di dada kalian semakin cepat. Ya, pelan-pelan kalian akan melihat  aku meringkuk di bawah jalur pisau, melepaskan rantai di kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plok..plok..plok…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tanganlah karena kalian bebas. Bukankah terbebaskan dari yang bukan penjara itu sangat melegakan? Sangat. Ya, sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kananku melintang, memegangi dada kiri. Aku yang basah membungkuk  memberi hormat. Di tengah panggung. Di sayap kanan. Juga di sayap kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, sekali lagi. Dan selamat malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat terbebaskan, wahai kalian. Ya, tepuk tanganlah. Bersoraklah.  Iringi perjalananku ke belakang panggung dan tirai yang turun dengan  tepuk tangan dan sorak sorai. Ya, terbebaskanlah. Nikmati selagi bisa,  sebelum kalian kembali ke dunia yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merad, kini kau mengerti bagaimana menyedihkannya dunia. Bagaimana besar  tugas kita di dunia ini. Merad, jika kau melihat tatapan mereka tadi,  seharusnya kau mengerti. Peluklah aku, Merad. Aku berhasil menjalankan  tugasku. Kita berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dadamu berdarah, Hudi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya bekas air tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu darah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa peduli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kurasakan kedua lututku menghantam lantai.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1754251712678434780?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1754251712678434780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/02/panggung_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1754251712678434780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1754251712678434780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/02/panggung_18.html' title='Panggung'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-L3ir0Ihkp8o/TX0Grp7DPxI/AAAAAAAAAE4/uQkmNeaHkm0/s72-c/panggung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8496173168650355848</id><published>2011-02-06T22:29:00.008+07:00</published><updated>2011-03-07T00:54:17.534+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Areté</title><content type='html'>&amp;nbsp;*) tulisan yang digunakan sebagai pengaya materi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #19 Open Mind Community, 6 Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah.&lt;br /&gt;Tadi engkau mencintaiku. Punggung orang jadi kekasihku.&lt;br /&gt;Kereta api tidak berhenti seperti mimpi.&lt;br /&gt;Tidak ada mimpi di balik kelopak mata.&lt;br /&gt;Gerbong-gerbong dalam tubuh sesak&lt;br /&gt;Engkau masih perbaiki rel rusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini orang-orangan sawah kesepian: ditinggal petani dan padi&lt;br /&gt;Bocah memungut bongkah tanah kering.&lt;br /&gt;Sebentar kereta api menghibur orang-orangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lemparkan bongkah tanah ke jendela kereta api.&lt;br /&gt;Terburai tapi tidak memecah.&lt;br /&gt;Kereta itu terlalu panjang.&lt;br /&gt;Pagar ladang tebu di seberang&lt;br /&gt;Di luar gerah. Tidak ada irigasi di tubuhku.&lt;br /&gt;Kereta api membawa pergi ladang tebu&lt;br /&gt;Lalu terdengar bunyi peluit merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pare-Semarang, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P3LXvdlrKmU/TVf5hhtxQqI/AAAAAAAAAEU/BQqnq0Xbyn4/s1600/rhbfleu6.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-P3LXvdlrKmU/TVf5hhtxQqI/AAAAAAAAAEU/BQqnq0Xbyn4/s320/rhbfleu6.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Keluar  dari batas-batas definitif tentang apa itu ilmu dan ilmu pengetahuan,  segala hal bisa menjadi ilmu sekaligus ilmu pengetahuan. Sebuah cahaya  yang mencerahkan. Manusia yang selalu belajar seperti orang yang dalam  kegelapan, mencari sumber cahaya. Dan, ia akan menemukan. Entah dari  diri sendiri dan atau dari manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan puisi  Guri Ridola ‘Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api’ layaknya sebuah kelas  tempat manusia pembelajar menemukan ilmu. Guri sebagai guru, dan puisi  sebagai ilmu. Puisi, dari sudut manapun pemaknaannya, pastilah  mengandung sebuah ide. &lt;i&gt;Aret&lt;/i&gt;&lt;i&gt;é&lt;/i&gt;, atau titik henti, adalah  kondisi manusia menghentikan sejenak keliaran laju ide. Bukan serta  merta menghentikan, tetapi di dalamnya juga ada penemuan makna yang  lebih dalam dari ide itu. Proses kontemplasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ide yang besar yang ingin dikatakan Guri. Seperti dalam salah satu barisnya, &lt;i&gt;kereta tidak berhenti seperti mimpi&lt;/i&gt;.  Kereta layaknya waktu, tak satupun manusia mampu menghentikan. Lain  halnya dengan ide, mimpi-mimpi itu, manusia mempunyai kewenangan atas  dirinya untuk sejenak berhenti, istirah dari keliaran ide.  Berkontemplasi. Manusia—selain berkecenderungan merelakan diri pada laju  ide—juga mempunyai semacam kekuatan untuk merealisasikan mimpi-mimpi  itu menjadi apapun, puisi misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guri, dalam puisinya kali ini, terkesan berusaha menghentikan keliaran idenya tersebut, dalam sebuah &lt;i&gt;arête&lt;/i&gt;—wujudnya  adalah puisi sebagai hasil kontemplasi. Dalam usahanya menyelaraskan  realitas yang terjadi di depan mata dan realitas yang ada dalam kepala,  Guri berhenti. Ya, semacam berhenti untuk mencari arti, menemukan makna.  Tetapi, seperti yang terjadi dalam setiap pencarian, ada kemungkinan  terjebak dalam kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mimpiku terburai di jendela, untung tidak pecah&lt;/i&gt;,  begitu bunyi di baris pertama. Tapi mengapa tidak pecah? Mengapa tidak  meledak? Mengapa masih lembam, berayun dari satu sisi ke sisi lain,  menciptakan ketaksaan. Sebenarnya, kebingungan sudah terbaca dalam  pemilihan diksi dalam judul, &lt;i&gt;Bocah Pelempar Gerbong Kereta Api&lt;/i&gt;. Apakah Bocah yang melemparkan gerbong kereta api? Atau bocah yang melempari gerbong kereta api? Begitulah &lt;i&gt;arête&lt;/i&gt;, kondisi yang dibutuhkan semua orang tapi belum semua orang yang mampu menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tertransportasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Arête&lt;/i&gt;  bisa dimaknai juga sebagai proses mengenali kemudian menemukan  keunggulan. Namun, banyak hal begitu multitafsir. Pencarian itu bisa  saja berujung ketersesatan, tersesat karena terseret keliaran ide dalam  kepala atau tersesat karena terseret godaan realitas di depan mata..  Guri terkesan lebih terseret oleh realitas di depan mata, dari &lt;i&gt;masih memperbaiki rel kereta api &lt;/i&gt;tiba-tiba ia memandang &lt;i&gt;orang-orangan sawah kesepian. &lt;/i&gt;Guri  tertransportasi. Kondisi itu tidak hanya dapat ditangkap dari koherensi  baris per baris, juga dalam keseluruhan puisi. Puisi itu sendiri  menggambarkan kondisi tertransportasi. Perhatian seorang bocah yang  terpusat pada kereta yang melaju dan melewatinya, lalu bocah itu  melemparinya. Tertransportasi yang disadari, dan dijadikan puisi.  Terseret, atau tertransportasi adalah kecenderungan &lt;i&gt;arête &lt;/i&gt;yang biasanya dialami oleh yang belum mahir berhenti atau menghentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masih terkait hal di atas, Guri menciptakan sebuah paradoks. &lt;i&gt;Arête &lt;/i&gt;yang tak benar-benar berhenti akan menciptakan ke-tertransportasi-an. Namun, &lt;i&gt;arête&lt;/i&gt; yang tak sempurna Guri kali ini mampu menghasilkan puisi. &lt;i&gt;Kereta api pergi membawa ladang tebu, lalu terdengar bunyi peluit merintih.&lt;/i&gt; Tertinggal dan terseret. Tetapi masih bisa memuisikan. Lain kali, Guri, jangan tertinggal kereta api lagi, naiki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8496173168650355848?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8496173168650355848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/02/arete.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8496173168650355848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8496173168650355848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/02/arete.html' title='Areté'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-P3LXvdlrKmU/TVf5hhtxQqI/AAAAAAAAAEU/BQqnq0Xbyn4/s72-c/rhbfleu6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3637385661662523662</id><published>2011-01-24T11:30:00.003+07:00</published><updated>2011-03-07T00:55:49.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>(Setelah) Membaca Absurditas</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Notulensi Bincang-Bincang Minggu Open Mind Community, 23 January 2010.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu  sore, Taman Budaya Raden Saleh ramai. Suara pentas musik masih  menguasai suasana. Sedikit bising. Namun, para penggiat Open Mind  Community tetap mengadakan diskusi rutin mereka. Bincang-bincang Minggu.  Diskusi kali ini dipantik oleh tulisan Musyafak Timur Banua, &lt;a href="http://www.facebook.com/topic.php?topic=14235&amp;amp;uid=430862975514"&gt;Membaca  Absurditas dan Chaos Dunia&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyafak, pada awal diskusi  mengaku sedang ‘mabuk’ saat membuat tulisan pemantik tersebut. Tulisan  itu keluar tak terbendung. Tapi, tambahnya, bukankah begitulah  kecenderungan absurditas? Tak terbendung. Dunia penuh dengan hal-hal  absurd. Dunia itu absurd. Cerpenis muda Semarang itu mencontohkan,  harapan—atau lebih tepatnya imajinasi—kita pada hukum yang ideal seperti  terbentur pada kenyataan yang kita lihat di televisi. Mafia hukum,  korupsi hakim, penyuapan. Absurditas ada dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung  Hima mengutarakan hal lain. Seperti hidup dalam ketiadaan. “Aku itu  merasa tidak ada,” katanya. Agung mengaku kerap kali merasa hidup itu  hanya seperti itu saja. Dia membayangkan setelah mati, apakah masih ada  Agung Hima? Pertanyaan itu masih saja menggema. Karena belum juga  menemukan jawaban atasnya, agung melanjutkan hidup sekenanya. “Tidak  punya harapan tapi tidak putus asa,” timpal Musyafak. Menanggapi  pernyataan Agung Hima, Latree Manohara mengeluarkan celoteh khasnya,  “Absurditas yang masih mencintai istrinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair  Kurniawan Yunianto unjuk bicara. Selama manusia belum mampu  menyelesaikan urusan dengan dirinya sendiri, manusia tak akan pernah  mampu selesai dengan dunia. Agung mungkin sudah melewati tahapan  ‘selesai dengan diri sendiri’. Mungkin. Mungkin juga yang diungkapkan KY  merupakan kajian absurditas. Sebab, adakah manusia yang benar-benar  selesai dengan dirinya sendiri? Purwono Nugroho Adhi melanjutkan dengan  sebuah pertanyaan. Absurditas yang seperti apa yang sedang dibahas kali  ini? Ipunk, panggilan akrab Purwono Nugroho Adhi, berpendapat bahwa  absurditas dalam kajian filsafat berbeda dengan absurditas dalam  kaitannya sebagai awal mula eksistensialisme. Absurditas—dalam kaitannya  dengan eksistensialisme—mempunyai kecenderungan sebagai sebuah fase  untuk menuju apa yang disebutnya sebagai eksistensialisme theology.  Manusia perlu melewati absurditas untuk mencapai eksistensialisme  theology. Absurditas bisa dianggap sebagai sebuah fase  menemukan—walaupun absurditas pada dasarnya adalah nonmakna. Sebuah fase  &lt;i&gt;dark night of the soul&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUuCSTkxRRI/AAAAAAAAAEQ/Xe6mz_GG8e0/s1600/jumper300x300b.jpg" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUuCSTkxRRI/AAAAAAAAAEQ/Xe6mz_GG8e0/s1600/jumper300x300b.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi mengalir menuju  ke falsafah jawa. KY mengungkapkan bahwa di dalam kitab suluh  kemungkinan besar tidak mengenal istilah absurditas. Selain karena  memang tidak ada kata dalam bahasa jawa yang bersinonimi dengan  absurditas, juga karena pemikiran jawa sudah melewati fase itu. Banyak  yang terkesan tidak masuk akal dalam pemikiran jawa, jika kita  menelaahnya menggunakan logika saat ini. “Iya, kita contohkan falsafah &lt;i&gt;urip mung mampir ngombe&lt;/i&gt;,” lanjut Ipunk. Orang jawa percaya hal itu, bagaimana bisa hidup hanya dianalogikan pada hal sesederhana &lt;i&gt;mampir ngombe&lt;/i&gt;? Tapi, begitulah orang jawa. Orang jawa beranggapan ada yang menanti—yang lebih penting dari sekadar &lt;i&gt;mampir ngombe&lt;/i&gt;—setelah hidup ini, begitu yang diungkapkan Ipunk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup  ini memang begitu absurd. Seabsurd kegiatan diskusi di tengah-tengah  kebisingan pentas musik underground. Diskusi tetap berjalan, pentas pun  tetap berlangsung. Dua hal yang sangat tidak masuk akal jika dipadukan,  tapi itulah yang terjadi minggu sore itu di Taman Budaya Raden Saleh.  Manusia-manusia mempunyai rencana-rencana yang berbeda—yang mungkin  bersinggungan atau bahkan bertabrakan. Tapi manusia-manusia tersebut  hidup di dunia yang sama, di waktu yang itu juga. Ketika dua hal berbeda  terjadi dalam satu waktu, saat itulah absurditas mengambil tempat.&lt;br /&gt;Musyafak  kembali bersuara, kali ini ia mengungkapkan alasannya menulis tentang  absurditas adalah mengantarkan pada terminologi absurditas. Apa yang  meski dilakukan dalam absurditas? Adakah pilihan bagi manusia? Menurut  musyafak, Nietzsche menawarkan &lt;i&gt;amor fati&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ecce homo&lt;/i&gt; dalam permasalahan absurditas ini. Tapi, bagaimanakah cara mencapai kondisi itu ? Musyafak menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana  hening, semua orang seakan larut dalam gambaran absurditas yang ada di  kepala masing-masing. Kemudian Haris Zona bersuara. Menurutnya,  absurditas merupakan imbas dari modernitas yang kebablasan, yang  berkecenderungan melahirkan eksistensialisme. Ada dua hal yang Haris  tawarkan. Pertama adalah sinkronitas. Bagaimana kita bisa memahami  kondisi-kondisi absurd sebagai sebuah kebetulan-yang-bukan-kebetulan?  Yang kedua adalah awareness, kesadaran. Kesadaran ada dua, kesadaran  sadar dan kesadaran tidak sadar. Bagaimana kita bisa memahami kedua  kesadaran tersebut secara penuh? Haris mencontohkan, bagaimana kita  mengerti dan memahami pesan yang muncul pada mimpi-mimpi kita? Apakah  mimpi itu &lt;i&gt;insight&lt;/i&gt; (wahyu) atau hanya mimpi bunga tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  kerendahhatian yang perlu ditekankan. Rendah hati untuk selalu belajar,  rendah hati untuk selalu mencari sampai menemukan. Haris menambahkan,  konon suara tuhan itu datang kepada manusia dalam frekuensi yang sangat  rendah. Manusia kadang terlalu ‘tersibukkan’ untuk mampu menangkap suara  tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KY menyahuti. Obat panu itu bisa Kalpanax bisa  juga adas pulowaras, katanya. “Untuk menyadari yang tidak disadari pun  memiliki cara yang berbeda,” lanjutnya. Mungkin selain rendah hati,  kesadaran manusia yang perlu ketenangan. KY mengibaratkan kita berusaha  melihat dasar sungai yang airnya jenih tapi beriak. Kita membutuhkan  kondisi air itu tenang. Baru kita bisa melihat dasarnya lebih jelas.  Ketenangan itu saja dibutuhkan pada sungai berair jernih, apalagi pada  yang berair keruh. Menyoal mimpi, KY mengutarakan dalam pemikiran jawa  ada istilah puspotajem, yaitu mimpi yang wahyu. “Ada tiga jenis mimpi  sebenarnya, tapi jika diungkap sekarang diskusi ini akan semakin  kemana-mana,” lanjutnya sambil terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUuCSTkxRRI/AAAAAAAAAEQ/Xe6mz_GG8e0/s1600/jumper300x300b.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ya, semakin  absurd. Absurditas semakin dikaji mana ujung pangkalnya akan menjadi  semakin absurd. Janoary mengibaratkan absurditas itu sebuah sungai. Dan  manusia harus masuk dengan penuh kesadaran ke dalam absurditas itu,  tanpa berprasangka apapun. Toh, seperti gelondong kayu yang hanyut di  sungai, manusia akan tetap menuju laut. Soal sampai di laut masih utuh  atau tidak, tergantung kesadaran manusia itu sendiri ketika hanyut dalam  arus sungai. “Kalau kita sadar kita sedang terhanyut dan berusaha  mengendalikan keterhanyutan itu sekuat tenaga, paling-paling &lt;i&gt;kayune mung boncel-boncel sithik pas tekan laut&lt;/i&gt;,” kelakar Janoary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sejauh sungai pastilah laut. Sejauh langkah hanyalah laut.&lt;/i&gt; ~Musyafak Timur Banua~&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3637385661662523662?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3637385661662523662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/01/setelah-membaca-absurditas-dan-chaos.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3637385661662523662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3637385661662523662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2011/01/setelah-membaca-absurditas-dan-chaos.html' title='(Setelah) Membaca Absurditas'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUuCSTkxRRI/AAAAAAAAAEQ/Xe6mz_GG8e0/s72-c/jumper300x300b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3457853293888612972</id><published>2010-12-22T22:39:00.001+07:00</published><updated>2011-02-13T22:42:17.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Berjalan dalam Mimpi</title><content type='html'>Sebab napas pasti berakhir&lt;br /&gt;meski mimpi tak menemu ujung&lt;br /&gt;dan risau menggeliat di balik pintu&lt;br /&gt;menunggui kaki-kaki yang terlalu rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mana pula yang membawa&lt;br /&gt;jika udara tak hendak kemana&lt;br /&gt;akankah kamu kertas&lt;br /&gt;bermimpi jadi layang-layang&lt;br /&gt;tanpa sobekan di pakaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak salah memutuskan menanti&lt;br /&gt;apapun yang akan datang kelak&lt;br /&gt;punya atau tak punya kaki&lt;br /&gt;tak membeda arti&lt;br /&gt;kala hanya ingin berjalan dalam mimpi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3457853293888612972?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3457853293888612972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/12/berjalan-dalam-mimpi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3457853293888612972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3457853293888612972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/12/berjalan-dalam-mimpi.html' title='Berjalan dalam Mimpi'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3612796492055737350</id><published>2010-12-10T22:37:00.001+07:00</published><updated>2011-02-13T22:39:41.898+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Dipimpin Tu(h)an</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Lalu apa beda dengan monokrasi,&lt;br /&gt;demokrasi yang kau elu-elukan sendiri&lt;br /&gt;Siapa memilih siapa yang akan mati&lt;br /&gt;siapa harus menanggung kekacauanmu nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa kau merasa tuhan sendiri?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3612796492055737350?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3612796492055737350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/12/dipimpin-tuhan_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3612796492055737350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3612796492055737350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/12/dipimpin-tuhan_10.html' title='Dipimpin Tu(h)an'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3107266925677383121</id><published>2010-11-29T22:36:00.000+07:00</published><updated>2011-02-13T22:37:51.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Langit yang Bumi</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Mungkin tak ada yang lebih bumi&lt;br /&gt;dari langit yang kaupijak&lt;br /&gt;saat atap rumahmu adalah sejengkal&lt;br /&gt;yang tak lebih tinggi dari pundak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bebiji yang ingin kautanam di awan&lt;br /&gt;Bisa jadi kebingungan kemana mesti bertumbuh&lt;br /&gt;Gerimis terlalu muda tuk meretas kulit&lt;br /&gt;yang akan menunaskan suluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada remang manalagi kau akan berdiri?&lt;br /&gt;Cahaya telah mematahari&lt;br /&gt;"Senja nanti!&lt;br /&gt;Senja nanti&lt;br /&gt;akan kutemu puisi!"&lt;br /&gt;yakinmu&lt;br /&gt;"Temu juga sepatu&lt;br /&gt;untuk kakimu,&lt;br /&gt;bukan hiasan lemarimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mimpi&lt;br /&gt;tak pernah memberitahukan&lt;br /&gt;di mana kita sedang berdiri&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3107266925677383121?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3107266925677383121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/langit-yang-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3107266925677383121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3107266925677383121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/langit-yang-bumi.html' title='Langit yang Bumi'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1238506800914878158</id><published>2010-11-27T02:59:00.001+07:00</published><updated>2011-03-06T12:01:03.588+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Perjamuan Malam Ini</title><content type='html'>:AR, MRF, MUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari tegaskan garis pada gelas di hadapan  kita karena malam tidak akan hilang. Jikapun malam tetap menghilang dan  pagi datang, tak perlulah kita jelang. Karena kita akan tetap  berdendang.&lt;br /&gt;Seperti kita yang pernah mengumpulkan nada, juga gerimis  pada tubuh dan hati. Di perjamuan malam ini, kawan, kita akan ciumi  kembang yang telah dan sedang semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari pula saling mengingat  hidup yang tak pernah benar-benar memberi pilihan. Tetapi kita  memutuskan untuk memilih apa saja yang kita inginkan. Itu yang bisa kita  lakukan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, malam ini terlalu cinta. Asap-asap rokok  dan ampas kopi pun bercerita tentang madu dan racun. Mau tak mau kita  teguk semua dari gelas-gelas kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1238506800914878158?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1238506800914878158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/perjamuan-malam-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1238506800914878158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1238506800914878158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/perjamuan-malam-ini.html' title='Perjamuan Malam Ini'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4546006438508253211</id><published>2010-11-14T20:54:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T00:59:07.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksimini'/><title type='text'>Tantangan</title><content type='html'>TAK GUNA.&lt;br /&gt;Dua ular saling menantang dan ingin mengalahkan. Pemenang akan mendapatkan sepatu dari kulit yang kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENANTANG MAUT.&lt;br /&gt;Dia minum racun dan penangkalnya bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKTI RASA SAYANG.&lt;br /&gt;Kutantang dia untuk ngupil di lubang hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANTANGAN TUHAN.&lt;br /&gt;Manusia mana yang bisa menghidupkanku lagi, kuberikan surgaku kepadanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4546006438508253211?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4546006438508253211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/tantangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4546006438508253211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4546006438508253211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/tantangan.html' title='Tantangan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3875667999584302452</id><published>2010-11-13T22:43:00.003+07:00</published><updated>2011-02-13T22:44:03.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Cinta (?)</title><content type='html'>Cinta dimana?&lt;br /&gt;Masih di saku celana Tuhan&lt;br /&gt;Seingatku sebelah kanan&lt;br /&gt;Tempat semua rahasia disembunyikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimana?&lt;br /&gt;diantara gedung-gedung tua&lt;br /&gt;yang mati karena kentut kota&lt;br /&gt;Aku mendengar anak jalanan menyeretnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimana?&lt;br /&gt;mungkin menyepi dini hari di emperan toko&lt;br /&gt;seperti muhammad menepi di gua hiro&lt;br /&gt;lalu mendendangkan tiga kali iqro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimana?&lt;br /&gt;ada di semua mata&lt;br /&gt;yang belum terbaca&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3875667999584302452?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3875667999584302452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3875667999584302452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3875667999584302452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/11/cinta.html' title='Cinta (?)'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5955745719765512115</id><published>2010-10-10T09:54:00.002+07:00</published><updated>2011-01-31T09:59:10.390+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kamar Makin Samar</title><content type='html'>Dari setengah batang yang masih setia pada api, kamarku terlihat  samar. Di antara buku-buku yang berserak di atas karpet biru, kubayangkan isi kepalaku merah layu di jalan berbatu.  Ketakutan menemu bentuk pada hati remuk. Kesepian menjadi puncak segala  sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tanpa kata. Aku lupa cara. Aku lupa dimana nyali. Aku hanya membohongi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kuhentikan waktu, tapi kejujuran itu siksa yang nyata.  Dunia adalah pemaksa. Aku bocah paling keras kepala. Kini, aku  benar-benar tersesatkan oleh diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari setengah  batang yang telah mati, kamarku makin gelap. Jalan berbatu itu makin dekat. Aku ingin kembali, memelukmu dan melepas sesak  dalam isak, "Ibu, tamparlah aku. Tapi ajari anakmu ini berjalan lagi."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5955745719765512115?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5955745719765512115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/10/kamar-makin-samar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5955745719765512115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5955745719765512115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/10/kamar-makin-samar.html' title='Kamar Makin Samar'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3427205965869604979</id><published>2010-10-01T22:02:00.000+07:00</published><updated>2011-01-29T04:15:02.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Bocah Patah Hati</title><content type='html'>Pikiran adalah malam lengang. Penuh sesak oleh sajak  kerinduan yang panjang seperti  barisan pemuda yang mengantri untuk mati di medan  perang. Tapi cinta tak pernah mengantri, bahkan untuk mati.  Kerinduan lupa cara  menari. Beruntung masih mengingat cara menulis. Mengentas galau dari otak kacau ke  hati yang kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sampailah  kita pada  pencapaian yang hina. Kau mulai pintar  memainkan  kata-kata saat  aku sibuk menyembunyikan gerimis di saku celana.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Silahkan  mainkan bibir sesukamu, ungkapkan  apa yang selama ini   kauselipkan di balik kutangmu. Akan tetap  kudengar, tapi jangan   harap akan kudengarkan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena  terlalu  usang dan terlampau runcing. Kata-kata menjadi merah. Lebih  merah dari  tempat sampah di pojok kamar. Berbatang yang ia sulut tak  kunjung  menghapus sepi atau menyembuhkan luka. Tapi selalu ada asap  untuk  menukar air mata. Kecewa kepada cinta. Marah kepada apa saja.  Gelisah  pada kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sampailah kita pada  pemberhentian yang luka. Kau mulai pintar menimang kejujuran  saat aku mulai mengenal kebohongan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ah,  sudahlah. Aku lelah berbohong. Tapi kita memang manusia, yang tak pernah  siap menerima kebenaran.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatang yang tersisa. Sekali lagi, mencoba menghapus sepi. Membaca  berbaris sajak lagi. Sajak rindu yang cengeng. Tiba-tiba, ada rasa ingin bunuh diri. Mengambil remote  control  televisi lalu menggenggamnya seperti sebuah pistol. Ujung  pistol yang  sebenarnya ujung remote control itu diarahkan ke  pelipis, memberi pintu untuk peluru masuk ke kepala yang  tolol. Konyol. Seorang bocah berimajinasi bunuh diri. Seorang bocah membunuh  imajinasinya sendiri. Tentang sajak paling cengeng dan cinta  yang telah mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3427205965869604979?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3427205965869604979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/10/sajak-bocah-patah-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3427205965869604979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3427205965869604979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/10/sajak-bocah-patah-hati.html' title='Sajak Bocah Patah Hati'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-720135233370638971</id><published>2010-09-28T16:02:00.002+07:00</published><updated>2011-01-29T02:31:31.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Tentang Cinta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKJEeDSN0I/AAAAAAAAAC8/NISl5Un05eQ/s1600/2335185763_909f4d5ac9.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKJEeDSN0I/AAAAAAAAAC8/NISl5Un05eQ/s320/2335185763_909f4d5ac9.jpg" width="232" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mencari-cari namun tidak kunjung menemukan bisa berarti kesialan itu  sendiri. Lintang merasa sial hari ini. Sudah dua hari ini dia belum  beranjak dari halaman 93, dia mencoba menerjemahkan Essays on Love karya Alain  de Botton. Novel yang dia dapat beberapa minggu lalu memesona hatinya  sejak kalimat ketiga di halaman pertama dia baca. “Tidak bisakah  seseorang dimaklumi saat meyakini akan menemukan pria atau wanita yang  ditakdirkan untuknya?” kira-kira begitu Lintang mengartikannya. Lintang  makin bersemangat menerjemahkan, kata ke kata, kalimat ke kalimat. Dia  baca perlahan karena tidak ingin melewatkan satu pun makna. Dia percaya  bahwa jodoh itu sudah ditakdirkan. Dan Lintang merasa novel ini akan  menjelaskan apa yang ia yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang menyebalkan. Mendung menggelayut. Dan Lintang tak kunjung menemukan makna dari &lt;i&gt;variety of melting pot&lt;/i&gt;  yang bisa memuaskannya. Google translate pun hanya mengartikannya  sebagai ‘jenis pot yang meleleh’. Tidak ada yang bisa dipercaya di  internet, begitu pikirnya, kesal.  Kekesalan yang makin membuatnya  murung hari ini. Tapi ini hari jadinya. Satu tahun berpacaran. Setelah  berkali-kali berpacaran, baru kali ini Lintang mencapai satu tahun. Itu  suatu keberuntungan, bukan? Lintang berusaha menenangkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang  sibuk dengan pikirannya sendiri, kekesalan dan kesialan hari ini. Juga  kecemasan akan hujan yang mungkin saja turun nanti sore atau malam.  Musim tak lagi bisa dibaca. Hujan kadang datang tiba-tiba dan  berlangsung lama. Dan jika itu terjadi, maka hancurlah malam hari  jadinya. Lintang sudah berencana merayakannya dengan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu  kejutan yang aku siapkan untukmu.” kenang Lintang tentang sms dari  kekasihnya beberapa hari lalu. Lintang tersenyum. Dia memutuskan tidur  siang, menenangkan pikirannya dan berharap hujan tidak turun.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan  yang terakhir terkadang menjadi keberuntungan tersendiri. Itu yang  dirasakan Abe setelah menemukan buku Tentang Cinta karya Alain de Botton  di toko buku keempat yang ia kunjungi dalam dua hari ini. Hanya ada  satu buku tersisa di rak novel terjemahan. Abe tidak malu memamerkan  senyum kemenangan kepada semua orang yang berpapasan dengannya ketika  berjalan ke kasir. Dia bahkan melempar terlebih dahulu kepada penjaga  kasir. Dengan raut muka heran, penjaga kasir tetap membalas senyuman  Abe—keramahan yang terlatih khas penjaga kasir dan kebanyakan pelayan  toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang seperti petang. Langit mendung. Jalanan  ramai oleh kendaraan-kendaraan yang bergegas pulang. Tidak dengan Abe.  Hari masih terlalu sore untuk diselesaikan dengan tergesa, pikirnya.  Jikapun turun hujan, itulah hujan kemenangannya. Dia ingin berhenti  tersenyum membayangkan senyuman yang akan muncul di bibir Lintang. Mampu  membuat seseorang yang dicintai bahagia adalah kebahagiaan yang  sebenarnya. Abe merasa Lintang mungkin ingin memiliki buku ini. Abe  mempercayai perasaannya dan berjanji pada diri sendiri untuk mewujudkan  itu. Dan sekarang, di bawah langit yang kalah. Abe merasa menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetes  hujan sampai ke tanah ketika Abe memarkir motor di depan kos.  Keberuntungan yang lain, pikir Abe. Di dalam kamarnya, Abe merobek  plastik pembungkus buku. Membuka halaman pertama. Tentang Cinta, Alain  de Botton. Ya, mungkin memang ini tentang cinta. Dua hari keluar masuk  toko buku hanya mencari sesuatu yang tidak dia butuhkan. Abe tidak  pernah suka dengan buku-buku yang menuliskan percintaan. Buku-buku  menggambarkan cinta dengan ironis, selalu ada yang terluka. Cinta  memiliki sejuta rasa, sepuluh rasa bahagia sisanya berupa duka. Mungkin  karena terlalu banyak membaca buku-buku yang seperti itu banyak orang  yang merana karena cinta. Cinta bukanlah duka, menurutnya. Cinta adalah  anugrah yang harus dinikmati.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangun  tidur, Lintang mendapati sore masih saja mendung. Tapi entah mengapa dia  tidak merasa cemas hujan akan turun—mungkin karena tidur siang. Dia  yakin malam ini akan menjadi malam menyenangkan. “Kadang kita hanya  membutuhkan keyakinan untuk merasa nyaman,” katanya pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang  beranjak dari kamarnya. Kamar mandi adalah tempat yang menyenangkan  baginya. Walau suasana dingin, dia tidak pernah membenci mandi. Dia  biasa mandi lama sekali, kadang membuat kekasihnya menunggu lama. Namun  kekasihnya setia menunggu, itu salah satu alasan Lintang yakin  kekasihnya benar-benar mencintainya, benar-benar jodohnya. Lugu memang,  tapi cinta selalu lugu, bukan? Selain cinta itu rela berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  mandi, Lintang merasa inilah waktu yang tepat untuk melanjutkan  menerjemahkan, sambil menunggu malam tiba. Semoga saja dia bisa keluar  dari halaman 93 dan melewatkan malam nanti tanpa rasa penasaran pada  novel. Malam yang dinanti harus sepenuhnya dinikmati.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah  berapa kali Abe tersenyum hari ini. Jika senyum itu air, kamarnya  pastilah banjir. Abe membuat coretan di halaman pertama, tepat di bawah  huruf A dan B pada Alain de Botton. Arya Bagaskoro. Nama Abe memang  diberikan oleh Lintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mau memanggilmu Arya  atau Bagas, sudah banyak teman cewekmu memanggilmu itu.” Abe mengenang  perkataan Lintang ketika pertama kali memanggilnya Abe. Senyum itu  muncul kembali, Abe kebanjiran kebahagiaan. “Tetaplah menjadi Lintang”  tulis Abe di pojok kiri atas halaman pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung  masih di langit. Hujan tak kunjung turun. Dan malam telah tiba. Abe  menekan ujung-ujung buku Tentang Cinta, memastikan buku itu tidak  berlekuk walau dia tidak membungkusnya dengan kertas kado. Abe bergegas  mengantarkan buku itu, dengan semangat kemenangan. Senyuman Lintang bisa  menjadi piala yang menyempurnakan hari yang telah terlalu sempurna ini.&lt;br /&gt;Gerbang rumah Lintang nampak, Abe merasa makin dekat dengan kemenangan.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung  masih di langit. Hujan pun tak kunjung turun. Malam telah tiba. Walau  masih belum berhasil menerjemahkan Essays on Love melewati halaman 93, Lintang  masih merasa yakin bahwa malam ini akan menjadi malam istimewa. Lintang  bersiap, memakai kaos putih dan menyemprotkan parfum ke tengkuk dan  pergelangan tangannya. Dia berdandan. Dia ingin tampil cantik malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang  telah siap. Kini dia menunggu sang kekasih, sembari membayangkan  kejutan apa yang akan dia terima dari kekasih. Harapnya adalah  mendapatkan versi terjemahan Essays on Love. Pikirannya masih tidak bisa lepas  dari novel itu.&lt;br /&gt;Lintang di ruang tamu, menatap pintu. Masih menunggu.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abe memarkirkan motornya, bercermin ke kaca spion. Memastikan dia tampak menawan. Bel dipencetnya. Ting Tong!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abe menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu di buka, ibu Lintang berdiri di balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam, Tant. Lintang ada?” tanya Abe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam Bagas, Lintang keluar sama Galang tuh. Barusan aja.” jawab Ibu Lintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, saya nitip ini buat Lintang, Tant.” Abe menyerahkan buku bersampul corak langit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abe pamit. Dia pulang dengan tersenyum. Masih merasa menang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-720135233370638971?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/720135233370638971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/tentang-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/720135233370638971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/720135233370638971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/tentang-cinta.html' title='Tentang Cinta'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKJEeDSN0I/AAAAAAAAAC8/NISl5Un05eQ/s72-c/2335185763_909f4d5ac9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2005350426640161709</id><published>2010-09-09T19:57:00.000+07:00</published><updated>2011-01-29T04:00:39.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Menunggu Hujan Reda</title><content type='html'>Tak perlu kau tanya sampai kapan&lt;br /&gt;aku ada di bawah beringin yang menghujan,&lt;br /&gt;juga mengapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetes-tetes air dari pucuk daun itu &lt;br /&gt;membakar juntai akar&lt;br /&gt;mencipta asap yang kalut&lt;br /&gt;serupa arah-arah yang mencerabut pada mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana lagi setelah hujan ini, sayang?&lt;br /&gt;Bukankah kita menunggu pulang?&lt;br /&gt;Atau kita telah pulang&lt;br /&gt;tapi perjalanan terlalu pintar meluruskan tikungan?&lt;br /&gt;Kita masih manusia untuk melawan lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kepulangan itu hanya&lt;br /&gt;perihal menunggu hujan reda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2005350426640161709?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2005350426640161709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/menunggu-hujan-reda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2005350426640161709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2005350426640161709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/menunggu-hujan-reda.html' title='Menunggu Hujan Reda'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7642732077024431464</id><published>2010-09-08T22:20:00.014+07:00</published><updated>2011-03-12T19:04:43.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Bukan Balas Dendam</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Aku tiba-tiba merasa  mempunyai cukup nyali untuk menghadapi apa saja yang akan dia katakan  padaku nanti. Aku sudah menulis sebuah cerita. Aku bukan pengarang gagal  yang hanya bisa ngoceh tentang sebuah cerita tanpa pernah  menuliskannya, seperti yang selalu diucapkannya padaku. Aku tidak  seperti itu. Dan, cerita ini, akan aku sodorkan padanya malam ini.  Semalam, setelah aku selesai mengetik cerita ini di laptopku, aku segera  mengiriminya pesan. Pesan yang berisi ajakan ngopi di café langganan  kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita apa ini?” kopi yang aku hirup pelan,  tiba-tiba meluncur masuk menabrak kerongkongan. Aku tersedak saat dia  melontarkan pertanyaan pertamanya yang terdengar getir di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKM06Z84MI/AAAAAAAAADA/EbDbzFZeVUY/s1600/Soccer-Head.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKM06Z84MI/AAAAAAAAADA/EbDbzFZeVUY/s320/Soccer-Head.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;“Kau bisa baca sendiri judulnya.” aku mencoba tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beckham  berkaki delapan? Dari judulnya sudah terlihat, kau ini pengarang gagal  tapi masih saja sok nyentrik.” katanya. Kalau saja dia bukan sahabat  yang sudah lama kukenal, aku pasti sudah membuat mukanya berdarah dengan  menghempaskannya ke meja. Dia sahabat yang baik, tapi memang seperti  itulah caranya berbicara, gamblang cenderung kasar, akan meruntuhkan  nyali jika tidak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dulu menghakimi jika belum  membaca semuanya,” kata yang keluar dari mulutku di sela-sela asap  rokok yang kuhisap sesaat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita tentang  seekor laba-laba yang tinggal di sebuah kamar. Kamar kos seorang gadis  yang sangat mengagumi David Beckham. Di kamar itu, laba-laba hanya  mengenali dua manusia, gadis itu dan Beckham. Ada puluhan wajah Beckham  di kamar itu; di poster, di cover majalah, di poto yang dikliping dari  koran yang kemudian ditempel di dinding depan meja belajar gadis itu.  Bahkan, ada poto Beckham yang dipotong sedemikian rupa lalu digabungkan  dengan poto gadis itu, disandingkan manis layaknya sepasang kekasih.  Dipasang di pigura lalu diletakkan di meja belajar. Gadis itu lebih  sering memandangi poto-poto Beckham daripada buku-buku kuliah yang ada  di meja itu. Laba-laba menduga gadis itu tidak hanya mengagumi, tapi  mencintai David Beckham. Dia yakin dugaannya tidak keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menduga? Mana mungkin laba-laba bisa menduga sesuatu?” tanya sahabatku memotong kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imajinasi. Bukankah pengarang bebas membubuhkan imajinasi ke dalam ceritanya?” kilahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  sebenarnya tahu dia berkomentar seperti itu hanya untuk mencecar  ceritaku. Dan, aku yakin dia sebenarnya tahu, imajinasi membuat sebuah  cerita menarik. Imajinasi itu bebas, tidak mengikat. Ada yang sudah  pernah menuliskan obrolan cermin dan meja di kamar motel, dan sah-sah  saja membayangkan perabot rumah ngerumpi. Bahkan, ada yang nekat  berimajinasi menuliskan tentang tuhan yang memakai kacamata emas.  Walaupun katanya membayangkan tuhan seperti apa itu dosa, tapi imajinasi  tidak mengenal dosa. Hanya manusia yang takut dengan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja  kubuat laba-laba itu memiliki sifat manusia. Namun dia tidak seperti  manusia kebanyakan, yang suka berpraduga lalu merasa yakin dugaannya  benar tanpa perlu membuktikan. Dia menyaksikan bukti-bukti; ucapan  selamat malam dan kecupan lembut di poto setiap malam, tawa-tawa kecil  yang muncul diiringi sipu setiap kali gadis itu melamum sambil memegangi  poto Beckham, dan banyak hal lain yang biasanya ditayangkan  sinetron-sinetron untuk menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta.  Si laba-laba itu memang sering menemani gadis itu menonton TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo,  kamu ingin menceritakan cinta?” tanya kawanku. Sebenarnya pertanyaan  itu tidak perlu kujawab. Toh, dia akan mengerti nantinya ceritaku ini  tentang apa setelah rampung membaca. Tapi, dengan maksud membuat dia  semakin bingung dan tertarik mengikuti jalan cerita, kujawab saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,  ini sebuah cerita cinta.” kataku. Aku merasa puas dengan jawabanku  setelah melihatnya mengernyitkan dahi. Dia sepertinya semakin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi  ini bukanlah cerita cinta biasa seperti di TV. Ini bukanlah cerita  tentang jejaka kaya yang mencintai gadis miskin atau gadis cantik jelita  yang mencintai pemuda bloon yang entah mengapa selalu berwajah  rupawan.” jelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa? Laba-laba yang disihir peri  menjadi Beckham semalam a la cinderella?” tanyanya lagi, kali ini aku  tidak menjawab dan memilih melanjutkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suatu  siang, saat memperbaiki sarang di bawah meja yang rusak karena berhasil  menjerat nyamuk semalam, laba-laba itu melihat gadis itu masuk kamar  dengan tergesa-gesa, seakan-akan di luar ada cicak besar yang akan  memangsa gadis itu, dan membuatnya harus masuk kamar secepatnya. Itulah  yang bisa dibayangkan laba-laba. Si laba-laba memang selalu melarikan  diri ke sarang jika dikejar cicak."&amp;nbsp; sejenak kuhentikan ceritaku untuk  menghisap kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu gadis itu menangis. Si Laba-laba  penasaran. Ia segera berayun ke kaki meja, lalu merayap ke tumpukan buku  di atas meja belajar. Gadis itu membenamkan mukanya di bantal. Beckham  cedera dan terpaksa mengakhiri kariernya. Itulah mengapa si gadis  tersedu." lanjutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beckham masih bermain, berita  transfernya pun masih santer. Kau terlalu mengada-ada, kawan.” Aku sudah  hapal dengan keinginan menyiram mukanya dengan secangkir di depanku,  selalu saja begitu tiap kali kita bercakap-cakap. Dia memojokkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau baca saja lanjutannya,” kusodorkan kertas-kertas itu ke sisi mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah,  tidak. Dari apa yang kauceritakan, aku sudah kehilangan selera  membacanya. Sekarang aku makin yakin jika kau ini pengarang gagal.  Kusarankan kau ganti cita-cita.” Benar-benar ingin kusiramkan kopiku ke  mukanya. Tapi kuurungkan, kopiku sudah dingin. Dia tidak akan merasakan  api yang disulutnya di dadaku malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang  kauinginkan dari cerita macam ini, kawan? Dibaca? Pembaca akan mendapat  apa? Tulisan seharusnya membawa pencerahan kepada pembaca. Bahkan cerita  fiksi harus memuat hikmah yang bisa dipelajari. Jika kau berkata ini  bukan cerita di TV, aku tidak setuju. Ini sama saja, hanya tanpa wajah  cantik gadis-gadis indo. Ini hanya cerita dengan kata-kata yang tidak  membawa kemana-mana.” Kulihat wajahnya mulai mirip peran antagonis di  sinetron-sinetron yang di-&lt;i&gt;shoot&lt;/i&gt; &lt;i&gt;close up&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kukira  setelah semalam kau sms, aku akan mendapat cerita pendek darimu untuk  kumuat di koranku. Tapi jika yang kau punya hanya cerita seperti ini,  memuatnya akan meruntuhkan imageku sebagai redaktur sastra. Ceritamu  bukan sastra. Ceritamu tidak layak dibaca.” Mulailah dia berbicara  dengan nada yang lebih mirip deru bulldozer ketika menggusur lapak-lapak  PKL di pinggir jalan. Lapak-lapak tempat aku menjual mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti  yang kukatakan tadi, kau ganti cita-cita saja. Apa sajalah, asal bukan  pengarang. Renungkan sebelum kau tidur nanti.” katanya sambil berdiri  dan merogoh saku belakang. Mengambil dompet dan mengeluarkan uang  limapuluh ribuan. Seperti biasa, dia yang membayar walau aku yang  mengundangnya ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, besok malam pukul delapan  jangan lupa datang ke Arena. Tim Halaman Sastra akan bertanding futsal  melawan Tim Halaman Kriminal. Aku memasukkanmu ke timku. Aku membutuhkan  umpan Beckham berkaki delapan untuk menang.” Dia berlalu sambil  tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk kamar. Kurebahkan badanku di tempat  tidur. Lampu kamar kumatikan. Aku ingin tidur melupakan kekesalanku pada  sahabatku yang satu itu. Tidak, aku tidak ingin melupakan. Aku ingin  meluapkan kekesalanku. Dalam tidurku kali ini, aku akan bermimpi menjadi  laba-laba dengan delapan kakinya. Menjadi Beckham berkaki delapan. Bola  yang akan kutendang adalah kepala sahabatku itu, dengan wajah yang  nyinyir tadi. Ah, dia pasti tidak akan marah. Tuhan pasti tidak akan  marah. Ruang mimpi adalah ruang untuk menjadikan nyata setiap hal yang  tidak terpenuhi di ruang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7642732077024431464?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7642732077024431464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/bukan-balas-dendam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7642732077024431464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7642732077024431464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/bukan-balas-dendam.html' title='Bukan Balas Dendam'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/TUKM06Z84MI/AAAAAAAAADA/EbDbzFZeVUY/s72-c/Soccer-Head.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5086206899523554572</id><published>2010-09-07T22:03:00.000+07:00</published><updated>2011-02-13T01:03:43.735+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>Kutulis surat ini untukmu. Aku akan pulang pagi buta nanti. Mungkin takkan sempat berpamitan denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak   perlu cemas, sudah kukecupkan ucapan selamat pagi di surat ini. Aku   harap kau tidak lupa mendengarkannya nanti. Kutahu kau merindukan pagi   dan ucapan-ucapan tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis surat ini  untukmu.  Aku akan pulang pagi buta nanti. Mungkin tak perlu kukatakan   kemana aku akan pulang. Perjalanan adalah sebenar-benar rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak   perlu cemas, aku tidak akan tersesat. Bukankah kau dan aku sama-sama   tahu, kita hidup di antara arah-arah. Persimpangan selalu ada. Seperti   yang pernah dan akan selalu kau dan aku lewati. Bersama-sama atau   sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis surat ini untukmu. Aku akan   pulang pagi buta nanti. Jika kau merindukanku, kenangan adalah pertemuan  yang melepas diri dari ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis surat ini untukmu. Bukan untuk mengucap selamat tinggal, kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya pulang pagi buta nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5086206899523554572?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5086206899523554572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5086206899523554572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5086206899523554572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/09/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8695127458748947193</id><published>2010-08-24T03:40:00.001+07:00</published><updated>2011-01-29T03:53:19.923+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hitam</title><content type='html'>Sejak kau katakan puisiku adalah bualan, hatiku melebam. Kuamati langit malam, semakin hitam. Pintu di dadaku yang pernah kaumerahkan  dengan lipstikmu kini berubah warna, jadi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku yang legam bertahan di dunia penuh iklan pemutih  wajah? Bagaimana aku tidak cemas dan gelisah? Diriku kaubentuk dari  kata-katamu, sedang kata-kataku tak mampu membangunkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,  kau dan dunia ternyata sama saja, menyembunyikan tanya dan jawaban di  balik celana. Ingin sekali kurogoh tapi takut diperkarakan. Aku masih takut ditampar Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku hitam, kau tak hitam. Atau dunia ini hitam, memaksa kita hitam. Entahlah. Perdebatan selesai. Kita sudah usai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8695127458748947193?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8695127458748947193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/hitam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8695127458748947193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8695127458748947193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/hitam.html' title='Hitam'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3953171864954126091</id><published>2010-08-20T17:36:00.001+07:00</published><updated>2011-01-29T03:40:06.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Anggap Rumah Sendiri</title><content type='html'>Kau kesepian, katamu. Pinjamlah pintu kemanasaja, sewa jika perlu.  Lalu pastikan tujuanmu adalah bahuku. Rebahlah di sana selama kau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  kau haus, berjalanlah beberapa langkah ke dadaku. Masuk saja, tak perlu  mengetuk. Aku tidak pernah mengunci pintu. Di dekat jantungku ada  kulkas. Ada jus jeruk di dalamnya. Kau habiskan tak apa. Aku tidak  begitu suka jus jeruk. Ada pula bir, minum jika kau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap  saja dadaku rumahmu sendiri. Kau boleh tinggal hingga kau bosan. Oh  iya, bicara tentang bosan, di ruang sebelah yang berpintu merah, itu  hatiku. Di dalam ada sofa yang kurasa nyaman untukmu. Dan ada TV 21  inch, DVD Player, juga film-film. Komedi, Drama, atau apa saja yang  ingin kau tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menonton horor karena aku tidak  bisa memelukmu jika nanti kau takut. Aku masih dalam perjalanan pulang,  ban motorku bocor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3953171864954126091?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3953171864954126091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/anggap-rumah-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3953171864954126091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3953171864954126091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/anggap-rumah-sendiri.html' title='Anggap Rumah Sendiri'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8174214520355284206</id><published>2010-08-17T12:40:00.000+07:00</published><updated>2011-01-29T03:46:18.655+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kacamata</title><content type='html'>Adalah kacamata&lt;br /&gt;aku pasang setiap hari&lt;br /&gt;di pangkal hidungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukaitkan di telingaku&lt;br /&gt;menjelma topeng&lt;br /&gt;menghalangi pandang mata&lt;br /&gt;membuat lampu jalan seperti berlian&lt;br /&gt;atau berlian layaknya pendar lampu jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kacamata&lt;br /&gt;berjarak sesenti dari mataku&lt;br /&gt;sedang kau jutaan dari hatiku&lt;br /&gt;menelantarkan janji&lt;br /&gt;untuk mengaitkan kelingking dan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kacamata&lt;br /&gt;membutakanku&lt;br /&gt;darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bagaimana aku melukismu nanti&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;saat tanah teramat gelap?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8174214520355284206?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8174214520355284206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/kacamata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8174214520355284206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8174214520355284206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/kacamata.html' title='Kacamata'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8030547357411157951</id><published>2010-08-08T13:31:00.001+07:00</published><updated>2011-01-29T03:35:06.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sesal tak Menyembuhkan</title><content type='html'>:WR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kubiarkan saja&lt;br /&gt;rindu menorehkan luka baru&lt;br /&gt;di atas namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: hingga kau tidak lagi terbaca&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8030547357411157951?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8030547357411157951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/sesal-tak-menyembuhkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8030547357411157951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8030547357411157951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/sesal-tak-menyembuhkan.html' title='Sesal tak Menyembuhkan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7512784660686245504</id><published>2010-08-06T20:02:00.000+07:00</published><updated>2011-01-29T03:30:19.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Sebatang Bukan Lisong</title><content type='html'>: &lt;b&gt;W. S. Rendra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;terinspirasi &lt;b&gt;Sajak Sebatang Lisong&lt;/b&gt; karya &lt;b&gt;W. S. Rendra&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bertanya&lt;br /&gt;Tapi pertanyaanmu membentur pertanyaanku&lt;br /&gt;Mengapa penyair-penyair salon&lt;br /&gt;Masih menunggu orgasme&lt;br /&gt;Mencumbu gerimis dan senja&lt;br /&gt;Padahal dadanya telah membiru&lt;br /&gt;Lebam dipukuli jaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga-bunga bangsa malah bergaya saat diperkosa angka&lt;br /&gt;Berkaca-kaca saat kehabisan pulsa&lt;br /&gt;Seperti cicak-cicak di dinding mengeluh kepanasan&lt;br /&gt;Jatuh ke kursi menjadi benih&lt;br /&gt;Tumbuh dipupuki radiasi layar dari pagi sampai malam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah kau bicarakan pendidikan&lt;br /&gt;Kami sudah muak mencecap teori-teori berdasar kurikulum yang dipas-paskan&lt;br /&gt;Lebih enak kami minum susu ibu muda bercampur silikon&lt;br /&gt;Yang baru saja membuang bayinya di tempat sampah beserta sebungkus kondom&lt;br /&gt;Mengapa kita mesti keluar ke jalan raya?&lt;br /&gt;Apalagi keluar ke desa-desa&lt;br /&gt;Jika yang ditemui sama saja&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan tanpa penyelesaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sajakku yang kutulis satu jam lalu&lt;br /&gt;Tentang pamflet masa daruratmu&lt;br /&gt;Apa artinya kata-kata?&lt;br /&gt;Jika tak terbaca dan didengarkan&lt;br /&gt;Apa artinya berpikir tentang perubahan?&lt;br /&gt;Jika membuat kita makin tenggelam di pengacuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Semarang,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;mengenang satu tahun wafatnya W. S. Rendra,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;6 Agustus 2010&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7512784660686245504?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7512784660686245504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/sajak-sebatang-bukan-lisong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7512784660686245504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7512784660686245504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/sajak-sebatang-bukan-lisong.html' title='Sajak Sebatang Bukan Lisong'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3606651429146346726</id><published>2010-08-06T03:20:00.003+07:00</published><updated>2011-01-29T03:39:18.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Malam Pertunangan</title><content type='html'>&lt;i&gt;Mari kita dendangkan malam dalam riuh&lt;br /&gt;Ketika perahu melabuh sauh di dermaga sepi&lt;br /&gt;Kita meramai dalam diri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih,&lt;br /&gt;Kita peram remah cemas&lt;br /&gt;Lupakan sejenak tiap napas&lt;br /&gt;Perjalanan tak selalu bertujuan&lt;br /&gt;Angin tak mesti alasan rambut berkibar&lt;br /&gt;Kabar pun tak harus lekas tersebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakini kasih,&lt;br /&gt;Kita pasti menemu sekat&lt;br /&gt;Jarak antara mata dan cahaya&lt;br /&gt;Juga tangan yang tetap meneruskan luka&lt;br /&gt;Darah membuat ingatan menubuh dalam raga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memilih mengumpulkan sisa-sisa&lt;br /&gt;Peluh dan lelah adalah keping di saku kita&lt;br /&gt;Syukuri lara tanpa banyak tanya&lt;br /&gt;Tak ada sebab juga akibat yang mudah diterka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangku,&lt;br /&gt;Jika kita menikah nanti&lt;br /&gt;Benihkan banyak cinta dalam hati&lt;br /&gt;Jangan sampai mereka menjadi tangis pada tanda tanya&lt;br /&gt;Letakkan nama dan tanda hubung antara almanak mereka&lt;br /&gt;Tuhan memberi udara agar kita tetap saling meraba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu lagi ragu pada takdir&lt;br /&gt;Hidup memang begini meski nasib tak kunjung hadir&lt;br /&gt;Tak perlu cemas pada sejarah&lt;br /&gt;Napas kita adalah cinta yang menyusun silsilah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3606651429146346726?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3606651429146346726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/malam-pertunangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3606651429146346726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3606651429146346726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/malam-pertunangan.html' title='Malam Pertunangan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7207115641113453640</id><published>2010-08-01T15:06:00.002+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kapan Kau Ukir Purnamamu Sendiri?</title><content type='html'>Selalu ada ruang antara mulut dan telinga kita. Pula telinga dan mulut  kita. Kata-kata hanya kabut yang muncul samar di malam hari. Seakan  ingin memeluk purnama. Tapi, mendekatinya pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana harus kuletakkan gemintang?&lt;br /&gt;Diantara kedua tanganmu yang kaku itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah jiwa-jiwa yang dilahirkan sayap. Aku terbang, menari di  awang-awang. Aku tidak akan menunggu musik yang entah akan kau mulai  kapan. Aku terbang karena aku lelah, memandangi mata-mata yang menunggu  kata-kata. Makna selalu salah diantara tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan kau ukir purnamamu sendiri?&lt;br /&gt;Aku sudah mencumbu bulanku, di ranjangku sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7207115641113453640?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7207115641113453640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/kapan-kau-ukir-purnamamu-sendiri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7207115641113453640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7207115641113453640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/08/kapan-kau-ukir-purnamamu-sendiri.html' title='Kapan Kau Ukir Purnamamu Sendiri?'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5172128418832784953</id><published>2010-07-26T14:53:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pulang dengan Cantik</title><content type='html'>: &lt;i&gt;Nor Faizah&lt;br /&gt;7 Mei 1987-26 Juli 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faiz,&lt;br /&gt;Kawanku,&lt;br /&gt;Sahabatku,&lt;br /&gt;Tak perlu lagi kau bingung&lt;br /&gt;bagaimana memoleskan warna-warna pagi&lt;br /&gt;di kelopak matamu yang lelah memangkasi kata-kata,&lt;br /&gt;matahari tak pernah menyalahkan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika lajur benih yang telah kita buat diusik ilalang&lt;br /&gt;Biarkan aku yang melanjutkan tiap gurauan&lt;br /&gt;Mencabuti tangis-tangis yang enggan bisu&lt;br /&gt;Lalu menanam kembali benih-benih lagu&lt;br /&gt;Pengiring tawamu yang masih tergenggam semalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tak perlu lagi bertanya,&lt;br /&gt;kita sama-sama tahu mengapa&lt;br /&gt;dalam tiada kata-kata kita mengada&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faiz,&lt;br /&gt;Saudaraku,&lt;br /&gt;Kita percaya perjalanan ke rumah selalu indah&lt;br /&gt;Karena itu kau pulang dengan cantik&lt;br /&gt;Seperti telah tuntas kau semaikan sewajah senyuman&lt;br /&gt;Di beranda hari-hariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini,&lt;br /&gt;Kubayangkan kau duduk di berandamu yang puisi&lt;br /&gt;Seteko kopi dan sesosok Penyair di sisimu&lt;br /&gt;Menjawab tiap tanyamu tentang waktu yang menggilas semua penjuru&lt;br /&gt;: kecuali kamu yang abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;namamu ada di berbaris puisi&lt;br /&gt;namamu ada di tiap doa kami&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5172128418832784953?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5172128418832784953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/pulang-dengan-cantik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5172128418832784953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5172128418832784953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/pulang-dengan-cantik.html' title='Pulang dengan Cantik'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8240912182753101531</id><published>2010-07-24T14:51:00.002+07:00</published><updated>2011-01-28T16:43:44.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Jatuh Bangun</title><content type='html'>I.&lt;br /&gt;Kau hehe&lt;br /&gt;Aku hahaha&lt;br /&gt;Aku hehe&lt;br /&gt;Kau hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;br /&gt;Kau  hiks&lt;br /&gt;Aku hiks&lt;br /&gt;Kita hiks&lt;br /&gt;Aku kau haha dalam hiks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.&lt;br /&gt;Hehe  memang hiks&lt;br /&gt;Haha juga hiks&lt;br /&gt;Kau hiks aku hiks&lt;br /&gt;Kita  sunyi hiks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.&lt;br /&gt;Kita prikitiew&lt;br /&gt;Kau haha&lt;br /&gt;Aku  hihi&lt;br /&gt;Prikitiew jadi hiks hiks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.&lt;br /&gt;Hiks hiks  hiks&lt;br /&gt;Hiks hiks&lt;br /&gt;Prikitiew hahahihi&lt;br /&gt;Aku sendiri hiks&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8240912182753101531?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8240912182753101531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/sajak-jatuh-bangun-derita-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8240912182753101531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8240912182753101531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/sajak-jatuh-bangun-derita-adalah.html' title='Sajak Jatuh Bangun'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-6791027962794229711</id><published>2010-07-23T14:45:00.000+07:00</published><updated>2010-09-18T14:46:45.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksimini'/><title type='text'>Anak-anak Jaman</title><content type='html'>I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimana ibumu, nak?" tanya seseorang kepada anak yang kebingungan di  keramaian.&lt;br /&gt;"Ibu mati di rumah. Bapak tidak sanggup membayar tagihan listrik." jawab  anak itu sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma, aku main dulu." teriak seorang anak di suatu sore.&lt;br /&gt;"Jangan telat pulang! Nanti Papa marah." sergah ibunya.&lt;br /&gt;"Aku hanya main sebentar ke dinding-dinding teman kok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat(kan) Hari Anak Nasional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Juli, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-6791027962794229711?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/6791027962794229711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/anak-anak-jaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6791027962794229711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/6791027962794229711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/anak-anak-jaman.html' title='Anak-anak Jaman'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1893172396267187744</id><published>2010-07-22T21:35:00.003+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Masih Memasak</title><content type='html'>: KM, N, MKS, YRP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada perih tak tuntas&lt;br /&gt;Jika bicara wajan yang belum panas&lt;br /&gt;Dan bertanya dimana pula api?&lt;br /&gt;Sebab sepiring dua hidangan tak kunjung tersaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan pula selesai&lt;br /&gt;Lapar yang mengiris mata&lt;br /&gt;Membutakan lidah dari manis asin&lt;br /&gt;Pahit membuat tangan kaku meracikramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kita jalani bersama&lt;br /&gt;Langkah yang tak pernah lebih lihai dari nasib&lt;br /&gt;Namun jemari tetap menaut, bukan?&lt;br /&gt;Karena belum matang kita memasak janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai meja dikelilingi tawa&lt;br /&gt;Biarlah asap tetap menyesak di dapur&lt;br /&gt;Meski kurang api dan bumbu&lt;br /&gt;Masih ada hati sendiri&lt;br /&gt;Dan tulang itulah tungku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1893172396267187744?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1893172396267187744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/masih-memasak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1893172396267187744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1893172396267187744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/masih-memasak.html' title='Masih Memasak'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-456036631841100142</id><published>2010-07-19T21:39:00.004+07:00</published><updated>2011-03-12T18:59:30.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Theoros Lahir Kembali Malam Itu</title><content type='html'>Notulensi Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 18 Juli 2010&lt;br /&gt;Beberapa orang berkumpul di salah satu pendopo Taman Budaya Raden Saleh  sore itu, menunggu hujan reda. Menunggu petang. Sore yang masih gerimis  dan Dian yang akhirnya datang. &lt;b&gt;Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12&lt;/b&gt;  pun dimulai sesaat setelah petang, merayakan karya Dian “Untuk Kau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk Kau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika memilih menunggu,&lt;br /&gt;Segera bunuh diammu&lt;br /&gt;Lama ia merenggut esokmu&lt;br /&gt;Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usah terbenam sebelum senja&lt;br /&gt;Waktu takkan mengaampunimu!&lt;br /&gt;Matahari sudah meninggi&lt;br /&gt;Kembalilah pada lakumu&lt;br /&gt;Mengeja mimpi yang terlupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas pelukan sesal&lt;br /&gt;Ia tak berbelas kasihan&lt;br /&gt;Cepat kau raba tubuhmu&lt;br /&gt;Hingga kau dapati luka&lt;br /&gt;Sampai kau temui mula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwono Nugroho Adi yang biasa dipanggil Mas Ipunk mengawali diskusi.  Dia menyatakan puisi penyair Dian membawa ingatannya kembali ke sebuah  bentuk sastra kebijaksanaan tua Yudaisme, gulungan sastra “Kitab  Megillot”. Kekhasan sastra Megillot adalah bagaimanapun baris perbaris  diubah posisi, makna yang dibaca akan tetap. Mas Ipunk mencontohkan hal  itu pada bait 1.&lt;br /&gt;Menyembunyikan tujuan pada jejak lalu&lt;br /&gt;lama ia merenggut esokmu&lt;br /&gt;segera bunuh diammu&lt;br /&gt;jika memilih menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari sesekali membenarkan letak kacamata, Mas Ipunk melanjutkan  pembacaannya. &lt;i&gt;Inner time&lt;/i&gt; sangat kentara di dalam puisi, banyak  penanda yang merujuk ke sana; &lt;i&gt;menunggu, esokmu, jejak lalu&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;mula&lt;/i&gt;.  Ada realitas yang terselubung di dalamnya. Realitas yang dihayati  adalah realitas palsu dan memunculkan dua fenomena, &lt;i&gt;disorted&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;dislocated&lt;/i&gt;.  &lt;i&gt;Disorted&lt;/i&gt;, dalam penggambaran Mas Ipunk, layaknya sebuah  permainan &lt;i&gt;Russian Roulette&lt;/i&gt;, manusia tidak pernah tahu pasti apa  yang akan datang dan kapan itu datang. Manusia seakan-akan dipermainkan  oleh realitas. Realitas adalah garis abu-abu antara ilusi dan iluminasi,  ketakniscayaan dan keniscayaan. Sedangkan dalam fenomena dislocated,  manusia selalu mengalami ketercerabutan identitas dalam realitas.  Manusia mencari-cari diri sambil terus berusaha membuka tabir  terselubung dari realitas itu. Mungkin karena itulah, kata &lt;i&gt;agony&lt;/i&gt;  yang berarti penderitaan lahir dari kata &lt;i&gt;agon&lt;/i&gt; yang berarti  perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galih, lelaki berambut keriting mirip vokalis salah satu band kenamaan,  menyanggah konsep tentang &lt;i&gt;agon&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;agony&lt;/i&gt;. Menurut  pembacaannya, puisi di atas menggambarkan sebuah &lt;i&gt;agony&lt;/i&gt; yang  akhirnya disadari (atau terpaksa diterima) sebagai sebuah &lt;i&gt;agon&lt;/i&gt;.  Penderitaan yang dianggap sebagai perjuangan. Dia juga menangkap tidak  adanya &lt;i&gt;clue&lt;/i&gt; dalam tiap baris puisi yang menjelaskan apa yang  sebenarnya sedang diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Ipunk menambahkan aku-penulis dalam puisi ini bertindak sebagai  &lt;i&gt;theoros&lt;/i&gt;,  yang pada jaman Yunani merupakan sebutan untuk seorang pengamat yang  (hanya) hadir dalam sebuah festival. Diam dan mengamati. Jika  menggabungkan pendapat Gadamer dan Heiddeger,  &lt;i&gt;theoros&lt;/i&gt; bisa  berarti sebagai kehadiran yang terlibat dalam realitas, berusaha  menemukan &lt;i&gt;Aletheia&lt;/i&gt;—kebenaran yang selalu dicari-cari. Judul  “Untuk Kau” menyiratkan kau yang bukan satu melainkan kau yang banyak.  Kau yang pembaca. Kau yang seluruh manusia. Seorang  &lt;i&gt;theoros&lt;/i&gt;  lahir kembali malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian duduk bersandar di salah satu tiang pendopo. Di wajahnya tergambar  semacam keseriusan merayakan puisi. Dengan pena dan kertas di tangannya,  dia mencatat hal-hal yang ia dengar. Terkesan dia tidak ingin  melewatkan tiap ilmu yang mengambang di lokasi diskusi malam itu.  Termasuk pembacaan Agung Hima. Pria yang dalam kesehariannya sering  terlihat memakai celana pendek itu mengawali pembacaan dengan  memendekkan puisi Dian.&lt;br /&gt;Jika memilih menunggu,&lt;br /&gt;Sampailah menemu mula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi tersebut akan lebih padat dan kuat. Toh, pesan yang ingin  dikomunikasikan tidak berubah. Begitu pendapat Mas Agung yang kerap  menyatakan semua puisi membawa spiritual assessment untuk pembaca. Dan,  ketika ia mencoba menangkap spiritual assessment dari karya Dian yang  didiskusikan, dia menemukan dirinya selalu berada dalam permulaan setiap  kali melakukan hal yang belum ia selesaikan. Selalu ada awal dan akhir  dalam hidup yang penuh kesiasiaan ini. Jika kita belum menyelesaikan  sesuatu, berarti kita masih ada di titik mula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diskusi Sastra Pojok Pendopo #12&lt;/b&gt; yang merupakan agenda rutin &lt;b&gt;Open  Mind Community&lt;/b&gt; malam itu sesekali diliputi kelengangan. Bukan  karena dingin malam sehabis hujan sore, melainkan puisi Dian yang  mengajak semua merenung, merayakan. Seperti pembacaan sekaligus perayaan  yang dilakukan penyair muda Semarang, Galih Pandu Adi. Pandu menyatakan  puisi Dian merupakan puisi perenungan, sarat muatan filosofis. Puisi  yang membicarakan aku-kau-manusia dan waktu. Puisi yang menurut Pandu  ditulis dengan penuh kesadaran untuk menyadarkan manusia, aku dan kau  tentang waktu yang takkan mengampuni. Pandu melanjutkan. Puisi ini tidak  terlalu imaginatif tetapi tetap kuat dengan kata-kata sederhana yang  menyusunnya, walau masih terkesan menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyafak Timur Banua, mahasiswa yang juga penyair muda Semarang  sekaligus berlaku sampingan sebagi filsuf atau entah sebaliknya, ikut  bergembira dalam perayaan puisi Dian. Syafak mengawali pembacaannya  dengan mengafirmasi pendapat Galih, bahwa dalam tubuh puisi Dian ada  kekaburan clue apa yang ingin diceritakan. Peletakan baris perbaris  terkesan serampangan, seperti puisi ini dibuat dengan waktu yang cepat.  Beberapa baris terkesan tidak logis, tidak sesuai urutan pada puisi yang  mengalir maju. Pada bait 2 baris pertama, penulis membicarakan senja.  Sedangkan pada bait yang sama baris ke tiga, penulis malah kembali pada  siang hari dengan &lt;i&gt;matahari mulai meninggi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin malam telah mendinginkan seteko teh hangat yang sudah setengah  kosong. Namun, diskusi tetap menemukan perayaan yang hangat diantara  penyair, puisi, dan pembaca. Sesekali kelakar khas &lt;b&gt;Open Mind  Community&lt;/b&gt; terlontar di tengah diskusi, membuat pendopo itu &lt;i&gt;horeg&lt;/i&gt;  oleh tawa tiap orang. Selingan, setelahnya diskusi berlanjut. Giliran  Kurniawan Yunianto mengungkapkan pendapatnya. Dia mengambil satu baris  dari tiap bait lalu membacakannya,&lt;br /&gt;Jika memilih menunggu,&lt;br /&gt;Waktu takkan mengampunimu !&lt;br /&gt;Sampai kau temui mula&lt;br /&gt;Dia berpendapat itulah inti dari puisi Dian. Berulang kali penyair  berambut panjang itu membaca, baris-baris itulah yang berasa kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan akan kurang hangat tanpa suara dari penyair itu sendiri. Dian  menyibakkan rambut ke belakang telinga, lalu mulai menceritakan proses  kreatif puisi “Untuk Kau”. Penyair ingin menyampaikan pesan—dalam bentuk  puisi—kepada seorang teman tentang ketakgunaan menyesali masa lalu.  Masa lalu bukan alasan untuk berhenti. Diam menunggu tidak apa jika itu  menguatkan dalam menghadapi masa depan. Diam menunggu tidak apa jika itu  tidak berlama-lama. Sebuah pesan berisi nasihat untuk melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gema Yudha mengangguk. Pembacaan yang dirasakannya pada puisi Dian  mungkin serupa. Dia mengungkapkan bahwa setelah membaca puisi Dian dia  merasa dinasihati agar segera menyelesaikan apa-apa yang tertunda. Dia  merasa seperti ada yang membisikkan “Jangan menyia-nyiakan waktu”  kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguki anggukan Gema. Saya bergema atas pembacaannya. Yang  dikatakan Gema tidak jauh berbeda dari apa yang saya tangkap. Saya  merasakan sebuah nasihat keras tentang (waktu) hidup yang keras.  Bagaimanapun manusia berusaha mengejar waktu, manusia akan selalu  tertinggal. Waktu yang tersedia sebaiknya digunakan sebaik-baiknya.  Lalu, saya mengangguki puisi Dian dengan kalimat “Selesaikan segera masa  lalu, masa depan tak pernah menunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengangan kembali terjadi. Puisi “Untuk Kau” seakan merebut ruang  renung di kepala setiap orang. &lt;i&gt;Waktu takkan mengampunimu.&lt;/i&gt; Setiap  detik manusia hanya mempunyai datum—sebuah titik yang tak bisa diulangi  atau point of no return—untuk dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*berdasarkan pencatatan notulen yang mungkin belum sempurna tentang  jalannya diskusi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-456036631841100142?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/456036631841100142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/semarang-18-juli-2010-beberapa-orang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/456036631841100142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/456036631841100142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/07/semarang-18-juli-2010-beberapa-orang.html' title='Theoros Lahir Kembali Malam Itu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2844156665093715358</id><published>2010-07-19T21:21:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Dialog tentang Janji, antara Aku dan Yang Tak Butuh Nama</title><content type='html'>Kau tak harus menemuiku&lt;br /&gt;Akulah yang mencari&lt;br /&gt;Kadang menunggumu&lt;br /&gt;Di kelas&lt;br /&gt;Di suara keras&lt;br /&gt;Diantara hujan deras&lt;br /&gt;Diselasela napas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku bisa mengenalimu?&lt;br /&gt;Kau selalu bersembunyi di balik bahasa&lt;br /&gt;Kau mengaku bernama-nama&lt;br /&gt;Apakah kau punya?&lt;br /&gt;Untuk apa kau perlu itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kau tak harus menemuiku&lt;br /&gt;Kirimkan saja ke rumahku&lt;br /&gt;Bidadari dan sungai madu dari rumahmu&lt;br /&gt;Seperti janjijanjimu dulu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2844156665093715358?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2844156665093715358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2008/07/dialog-tentang-janji-antara-aku-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2844156665093715358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2844156665093715358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2008/07/dialog-tentang-janji-antara-aku-dan.html' title='Dialog tentang Janji, antara Aku dan Yang Tak Butuh Nama'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2193835516470763836</id><published>2010-06-29T21:17:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tiada Mata Tertawa</title><content type='html'>Sore kerapkali membawa imaji tentang purnama. Bulan yang terlalu matang,  dosa jika hanya dipandang. Atas namanama yang lebih tak pasti dari  kata, kau dan aku berjanji terbang. Sekadar berpelukan di atas dadanya.  Kita melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, janji tak lebih tipis dari garis antara bahagia dan kecewa.  Tapi, kita berpegang tangan, bukan? Kita menautkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua yang satu, di ketinggian itu, angin terlalu riwis. Entah  karena apa kita selalu memulai gerimis tipis. Puting susumu dan bibirku  kadang sadis. Meretas jiwa lalu menghempaskannya ke awan lepas. Kita  terikat bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelam malam, ketika cahaya tertelan, kau dan aku tersesat. Kata-kata  membahana, menanyakan di sudut mana kita akan bersenggama. Bersamasama  menyetubuhi malam di langit yang puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dalam pekat semua tampak, ketersesatan yang telak tak akan  mengajak matamata tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2193835516470763836?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2193835516470763836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/tiada-mata-tertawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2193835516470763836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2193835516470763836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/tiada-mata-tertawa.html' title='Tiada Mata Tertawa'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2485740135892236900</id><published>2010-06-19T02:01:00.003+07:00</published><updated>2011-03-12T19:06:42.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Mati Saat Masih Bernapas</title><content type='html'>&lt;i&gt;Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulislah maka kau tidak akan pernah mati. Ah, mengapa menulis dihubungkan dengan kematian ? Apakah setiap hal yang dilakukan manusia itu sekadar untuk bekal mati ? Mengapa orang begitu takut mati. Padahal mati itu maknanya beragam, setiap orang bebas menafsirkan bagaimana. Menurutku, jika manusia terlalu takut pada kematian saat dia hidup, itulah kematian dia yang sebenarnya. Aku tidak ingin mati saat aku masih bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalimat pertama tadi dapat dimaknai lain. Menulislah agar kamu tetap hidup. Lebih tenteram menurut saya saat kita memilih kata hidup daripada kata mati. Memilih bagaimana hidup daripada memilih bagaimana mati. Menulis adalah menjadi hidup. Bisa jadi, hidup manusia adalah untuk menulis. Ya, menulis apa saja. Toh, makna menulis itu beragam. Jikapun menulis selalu lekat dengan bahasa, bahasapun beragam. Bukan melulu kata-kata. Setiap detik hidup manusia semestinya digunakan untuk menuliskan sejarahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun saya sudah menjalani hidup ini, bagaimanapun saya menuliskan sejarah saya sendiri, saya belum berani menganggap diri penulis. Alih-alih mengaku sebagai penulis yang kacrut, aku memilih tahu diri dan memilih sebutan pembaca yang kacrut. Aku masih belajar membaca. Membaca apapun, kata ataupun suasana. Awal dari menulis adalah membaca. Jika menulis adalah hakikat manusia sebenarnya, lain halnya dengan membaca. Membaca itu perjuangan hidup sebenarnya. Membaca itu butuh tenaga. Membaca itu bisa dikatakan pengorbanan yang harus dilakukan manusia untuk bisa hidup. Dan setiap pengorbanan akan menemui kelegaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengorbanan tidak harus perih. Jean-Paul Sartre menulis sebuah memoir yang dianggap sebagai mahakaryanya, Les Mots. Dalam memoir yang sudah dibukukan itu, Sartre menuliskan dua bab. Pertama membaca, lalu menulis. Masa muda adalah masa membaca. Itu yang saya tangkap darinya. Sartre kecil begitu bahagia bersama kakeknya, dia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan membaca. Dia senang membiarkan imajinasinya bermain, memikirkan banyak hal. « Pengorbanan » Sartre untuk menjadi penulis tidak terkesan perih, bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sebelum menulis adalah hal yang menyenangkan. Namun, yang lebih menyenangkan adalah ketika saya sedang membaca—berada di tengah kata-kata atau di tengah suasana, saya menemu diri ingin menulis. Ada semacam gerakan ke arah luar. Ada semacam tenaga yang memaksa untuk diekspresikan. Memang itu tidak jarang terjadi, saya memang pembaca yang kacrut. Jumlah buku yang saya baca belum banyak, jumlah suasana yang saya tangkap dan renungkan juga masih belum cukup. Bagaimanapun juga, gejolak itu memaksa diledakkan. Yang anda baca inilah hasil ledakan gejolak itu. Ya, saya memilih meledakkan gejolak itu melalui kata-kata. Bagi saya, itu yang paling menyenangkan, sesekali memang menantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roland Barthes terkenal dengan Dead of The Author-nya. Ketika tulisan terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan tulisannya. Pandangan saya yang masih kacrut ini tidak seperti itu. Menurut saya, pengarang lahir kembali setelah menulis. Pengarang reinkarnasi menjadi pembaca kembali. Pengarang harus membaca lagi, apalagi tulisannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit memang kembali memasukkan serpihan ledakan kata-kata saya sendiri untuk dibaca lagi, paling tidak itu yang saya rasakan. Untuk apa saya mengkerut lagi setelah merasakan sensasi ledakan ? Untuk merasakan ledakan lain yang lebih hebat, lebih menyenangkan. Oleh karena itu, saya menikmati gaya yang menekan saya untuk mengkerut, kembali ke dalam, untuk membaca. Gaya itu adalah pendapat pembaca-pembaca lain. Gaya itu berupa diskusi. Juga apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menikmati keadaan ketika tulisan saya dibahas, didiskusikan. Diapresiasi. Bukan untuk merasakan belaian afirmasi, melainkan sayatan negasi. Menurut saya, belaian afirmasi selalu membawa kantuk, seringkali membuat saya tertidur. Dan, sayatan negasi membangunkan saya pada sebuah pagi yang menyegarkan dan menantang. Setiap orang butuh tidur, tapi setiap orang juga harus segera bangun untuk menjalani hidup. Dan, memang begitulah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup, saya mencoba membaca kritik. Ledakan yang saya rasa menyenangkan kadang hanya berupa percikan ketika dirasakan pembaca lain. Mengetahui ledakan adalah percikan membuat saya bersemangat untuk membuat ledakan yang lebih hebat. Mungkin nanti jika saya beruntung, saya bisa menemukan setiap orang merasakan ledakan kata-kata saya sebagai ledakan, bukan percikan. Tapi, itu bukan alasan utama saya mengekspesikan ledakan. Saya hanya tidak ingin melewatkan setiap ledakan yang akan menuliskan sejarah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat manusia adalah menuliskan sejarahnya sendiri. Dan, bagi saya, setiap tulisan itu ledakan. Pengakuan orang lain bahwa tulisan itu adalah ledakan merupakan ledakan yang mengiringi. Bagaimanapun, menikmati ledakan adalah niscaya. Dan, saya tidak ingin berhenti menuliskan sejarah hidup saya. Saya juga tidak ingin mati saat masih bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* catatan pembaca kacrut yang mencoba menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2485740135892236900?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2485740135892236900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/mati-saat-masih-bernapas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2485740135892236900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2485740135892236900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/mati-saat-masih-bernapas.html' title='Mati Saat Masih Bernapas'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1020773422188810484</id><published>2010-06-18T01:57:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku Akan ke Gerimis Itu, Sekarang</title><content type='html'>Kau selalu membawa kata&lt;br /&gt;Aku membaca&lt;br /&gt;Aku jarang mengeja&lt;br /&gt;&lt;i&gt;: Peluk aku di pantai itu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa ? kataku&lt;br /&gt;Matahari pongah di bibir laut&lt;br /&gt;Kupuisikan saja untukmu istana pasir&lt;br /&gt;Yang selalu merindu&lt;br /&gt;&lt;i&gt;: Syahdu, aku mencanduimu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Aku ada di senja yang sama&lt;br /&gt;Terbang diantara katakata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu menggambar peta&lt;br /&gt;Aku masih tersesat di kembara&lt;br /&gt;Aku penyair gila&lt;br /&gt;&lt;i&gt;: Peluk aku di pantai itu, sekarang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa ? kataku&lt;br /&gt;Laut terlalu gagah pada gelombang&lt;br /&gt;Kukisahkan padamu tentang layanglayang&lt;br /&gt;Yang mencumbu angin siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;: Peluk aku di pantai itu, sekarang&lt;br /&gt;Aku ingin di bahumu, rindu&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1020773422188810484?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1020773422188810484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/aku-akan-ke-gerimis-itu-sekarang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1020773422188810484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1020773422188810484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/aku-akan-ke-gerimis-itu-sekarang.html' title='Aku Akan ke Gerimis Itu, Sekarang'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2795396981457875173</id><published>2010-06-16T01:53:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kubunuh Kau di Pagi yang Mendung</title><content type='html'>Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Ingin rasanya aku datang ke pintumu, mengetuknya, lalu menusukkan sembilu seketika kau membukakannya untukku. Akan kunikmati saat itu. Dadamu yang berkucuran darah, jantungmu tak lagi berdetak. Tunggu ! Bukan itu yang aku inginkan. Tubuhmu tak perlu aku bunuh. Tanah niscaya akan menjamah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kau sengaja membakar mata benci di depanku yang dingin dan sepi. Aku mencintaimu tapi api-apimu tetap menjilat-jilat. Sepertinya baru kemarin kudengar kau meneriakkan namaku dalam marah. Marah yang menangis. Kulihat kala itu pupil matamu bergetar, seperti tengah terjadi perang di dalam kepalamu. Saat itu akupun berairmata, juga tertawa. Tidak mungkin kau membenciku sangat jika di dadamu tidak pernah ada cinta yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kenangan tentangmu. Bawa sekali lagi mata benci yang pernah kau beri. Kupinjam percik apinya untuk membakar semua yang pernah terjadi. Saatnya kutuntaskan masa lalu. Masa depan sudah membunyikan peluitnya. Aku akan berangkat setelah membunuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kubunuh kau di pagi yang mendung&lt;br /&gt;Hidup adalah kereta&lt;br /&gt;Dan dalam setiap perjalanan,&lt;br /&gt;Orang-orang bertemu&lt;br /&gt;Orang-orang tidak saling kenal lagi nanti&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2795396981457875173?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2795396981457875173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/ah-pagi-yang-mendung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2795396981457875173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2795396981457875173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/ah-pagi-yang-mendung.html' title='Kubunuh Kau di Pagi yang Mendung'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4132620413905026208</id><published>2010-06-14T01:48:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Yang Di Luar Pintu</title><content type='html'>Wahai yang di luar pintu&lt;br /&gt;Di sana saja kau, tunggu&lt;br /&gt;Jangan masuk dulu&lt;br /&gt;Aku masih ingin singgah&lt;br /&gt;Di tubuh ragu&lt;br /&gt;Sementara yang bahkan telah berwinduwindu&lt;br /&gt;Menenun harapan terluka&lt;br /&gt;Memahati kenangan yang belum juga bermula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan marah&lt;br /&gt;Aku masih mencintaimu&lt;br /&gt;Aku masih ingin mengalungi lehermu&lt;br /&gt;Sekadar bercerita&lt;br /&gt;Memperlebat tawa&lt;br /&gt;Juga berlemparlemparan canda&lt;br /&gt;Di selasela senyum yang terjerat airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis ini untukmu yang di luar pintu&lt;br /&gt;Di sana saja kau, tunggu&lt;br /&gt;Jangan masuk dulu&lt;br /&gt;Kau masih sepi&lt;br /&gt;Di ketiakmu, kulihat terkempit sunyi&lt;br /&gt;Senyap sekali&lt;br /&gt;Aku yang akan keluar nanti&lt;br /&gt;Tapi, ingin kukerok dulu dakidaki&lt;br /&gt;Di seribu hari ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4132620413905026208?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4132620413905026208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/yang-di-luar-pintu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4132620413905026208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4132620413905026208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/yang-di-luar-pintu.html' title='Yang Di Luar Pintu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2455899152406415828</id><published>2010-06-10T01:47:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Samasama Manusia</title><content type='html'>Adalah gerimis&lt;br /&gt;Jatuh dari langit yang sama&lt;br /&gt;Menjelma semilyar dua abu&lt;br /&gt;Mungkin lebih&lt;br /&gt;Yang mencari jalan kembali&lt;br /&gt;Menemu awan juga bintang&lt;br /&gt;Lalu memeluk berpeluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sepi&lt;br /&gt;Dan juga seperti pelukan&lt;br /&gt;Di atas tanah&lt;br /&gt;Bahkan terkubur di bawahnya&lt;br /&gt;Diantara cacingcacing yang riang makan&lt;br /&gt;Lalu membuang semua sebagai kotoran&lt;br /&gt;Tidak ada jemari yang lima&lt;br /&gt;Tidak pula telapak tangan bertaut atau menengadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya melewati beberapa musim hujan&lt;br /&gt;Dan keringnya beberapa kemarau&lt;br /&gt;Lalu pada apa keabadian itu?&lt;br /&gt;Pada embun pagi yang menetes&lt;br /&gt;Lalu memeluk setiap tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah yang melarut pada laut&lt;br /&gt;Juga debu yang menguap bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pohon cemara sudah dipajang indah&lt;br /&gt;Menara pun mengumandang meriah&lt;br /&gt;Untuk apa hiasan merah,&lt;br /&gt;Apalagi teriakan tentang darah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2455899152406415828?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2455899152406415828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/samasama-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2455899152406415828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2455899152406415828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/06/samasama-manusia.html' title='Samasama Manusia'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-33153820503178354</id><published>2010-05-23T01:43:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pada Sebuah Belokan</title><content type='html'>Setelah kucelup titik mataku pada senja mendung,&lt;br /&gt;Kurendam sisasisa sepi dalam gerimis&lt;br /&gt;Biarkan semua benarbenar layu,&lt;br /&gt;Dan doadoa petang menyangga pusaraku nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar senyapku tak lagi sunyi&lt;br /&gt;Suarasuaramu kugelar lagi&lt;br /&gt;Sudilah datang sesekali&lt;br /&gt;Sekadar menatap aku yang gigil ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika malam nanti memeluk terlalu erat,&lt;br /&gt;Dan dingin mencekat&lt;br /&gt;Biarkan kusulut dedaun basah itu&lt;br /&gt;Meski tak nyala pula cahaya,&lt;br /&gt;Tapi tiap asa menyimpan benih bara&lt;br /&gt;Dan tiap sujud membangkitkan belokan rasa&lt;br /&gt;Seperti sekarang,&lt;br /&gt;Dalam mangu aku memantra:&lt;br /&gt;Wajahmu ada pada semua&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-33153820503178354?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/33153820503178354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/pada-sebuah-belokan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/33153820503178354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/33153820503178354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/pada-sebuah-belokan.html' title='Pada Sebuah Belokan'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2753338702410490942</id><published>2010-05-22T01:41:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T18:05:36.125+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mau Kau Bawa Kemana?</title><content type='html'>Dulu kau potret dia bertato Buaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuteriak: Cicak takkan kalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempat kau bercerita dia tak berdaya melawan segepok lencana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuteriak: Selamatkan mantan buaya dari naga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempat pula kau bantu dia membongkar bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuteriak : Beri dia ruang bicara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarin ada tikus yang bilang dia tikus juga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah kau lalu bilang apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebenarnya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau kau bawa kemana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2753338702410490942?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2753338702410490942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/mau-kau-bawa-kemana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2753338702410490942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2753338702410490942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/mau-kau-bawa-kemana.html' title='Mau Kau Bawa Kemana?'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4246688796151078916</id><published>2010-05-17T01:40:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sebelum Gerbang</title><content type='html'>Mulut adalah busur&lt;br /&gt;Lalu anak panah itu beterbangan menancap apapun&lt;br /&gt;Ksatria terhebat tidak pernah mati&lt;br /&gt;Anak panah menuliskan jejak namanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana aku?&lt;br /&gt;Masih kukumpulkan angin pecah&lt;br /&gt;Pula anak panah&lt;br /&gt;Kugantung semua itu&lt;br /&gt;Tujuh langkah sebelum gerbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kagum bukan dosa&lt;br /&gt;Karena nanti, sesampai di gerbang sana&lt;br /&gt;Kekaguman hanya menjadi jejak yang membawa&lt;br /&gt;Tidak lagi menggema&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4246688796151078916?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4246688796151078916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/sebelum-gerbang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4246688796151078916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4246688796151078916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/sebelum-gerbang.html' title='Sebelum Gerbang'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1510487644131490331</id><published>2010-05-04T01:38:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tilang</title><content type='html'>Kasihanilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menjual sawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menggadai rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi seragammu yang gagah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau tetap di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu roda terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menembus lampu merah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1510487644131490331?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1510487644131490331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/tilang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1510487644131490331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1510487644131490331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/tilang.html' title='Tilang'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2237421684155278079</id><published>2010-04-30T14:12:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Malam Nanti, Cinta tetap Mampir</title><content type='html'>Koran kemarin kugulung lagi setelah kubaca-baca&lt;br /&gt;Puas aku menikmati senyummu yang kutemu di sana&lt;br /&gt;Kudekap koran itu&lt;br /&gt;Kudekatkan senyummu ke dada&lt;br /&gt;Dan kuamankan dari tangan malam&lt;br /&gt;Yang selalu mencoba merengkuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,&lt;br /&gt;Entah mulai kapan aku memukim di sini&lt;br /&gt;Menunggu janji&lt;br /&gt;Melewatkan kereta-kereta yang melambat&lt;br /&gt;Enggan berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: Aku datang bersama kereta terakhir&lt;br /&gt;Menjinjing keranjang rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katamu semakin jauh&lt;br /&gt;Menjelma sayap-sayap terbang&lt;br /&gt;Yang akan melanglang&lt;br /&gt;Lalu, kapan kereta terakhir itu datang?&lt;br /&gt;Apa warna keranjang yang kau bawa, Sayang?&lt;br /&gt;Bagaimana pula dengan rindumu?&lt;br /&gt;Sudah lama sejak terakhir ia menggores telapak tangan&lt;br /&gt;Tak pula kulihat ia tersenyum di lembaran koran&lt;br /&gt;Ah, rindumu sekarang dimana, Sayang?&lt;br /&gt;Masihkah ia akan datang bersama kereta terakhir?&lt;br /&gt;Kalau tidak,&lt;br /&gt;Mending aku pulang&lt;br /&gt;Malam nanti, cinta akan tetap mampir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2237421684155278079?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2237421684155278079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/malam-nanti-cinta-tetap-mampir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2237421684155278079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2237421684155278079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/malam-nanti-cinta-tetap-mampir.html' title='Malam Nanti, Cinta tetap Mampir'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-1042999721597805979</id><published>2010-04-24T23:28:00.003+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak-sajak itu Kembali, dan Kubayangkan Kita Berdansa Lagi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97gC0VgRnI/AAAAAAAAAB4/3MCAMG0UiCo/s1600/kissing.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97gC0VgRnI/AAAAAAAAAB4/3MCAMG0UiCo/s200/kissing.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku gantung sajak-sajak di langit-langit kamarmu. Pernahkah kau melihat mereka berayun? Riang bukan? Sajak-sajak itu bukan aku, yang terlalu lelap jika bersandar di pundak kapasmu kala lelah. Sajak-sajak itu berayun, lalu bertimangan, lalu berayun, terus. Kala itu, sengaja kubuat untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, entah dihembus malam apa, mungkin dihantar sepi, sajak-sajak itu kembali. Berayun-ayun diantara rusuk-rusukku, masih saja riang. Jika bisa kujepret lalu pajang di meja belajarku seperti kau memajang bingkai fotomu dan kekasihmu, akan kulakukan. Namun, dia masih membawa kelam dari kamarmu. Ingin aku melukis sudut bibir yang tawa sajak-sajak itu, tapi kuas-kuas terlalu rapuh. Aku takut mematahkannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta menyergap&lt;br /&gt;Tak usah buang peluh untuk menolak&lt;br /&gt;Cinta tak mengenal elak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak itu kini bisa bernyanyi. Aku tidak pernah tahu mereka bisa, apakah kau yang mengajari mereka? Nyanyian merdu seperti rindu. Ah, sepertinya mereka belajar dari waktu. Tapi aku masih ingat, suara mereka suaramu. Aku masih ingat suaramu yang mengalun mengiringi dansa kita, di sebuah senja. Ah, Aku merinduimu, kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta melayang&lt;br /&gt;Tak usah kau usung serupa kandang&lt;br /&gt;Jika sudah akan, cinta tetap terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, diantara ayunan dan nyanyian sajak-sajak itu, kau mengawang-awang. Kau adalah yang dikenang. Bagaimana aku harus melukiskan rindu di wajahmu yang air? Kata apa yang bisa mengetuk hatimu yang angin? Ah, aku masih saja merinduimu, kekasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kubayangkan kita berdansa lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-1042999721597805979?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/1042999721597805979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/sajak-sajak-itu-kembali-dan-kubayangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1042999721597805979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/1042999721597805979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/sajak-sajak-itu-kembali-dan-kubayangkan.html' title='Sajak-sajak itu Kembali, dan Kubayangkan Kita Berdansa Lagi'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97gC0VgRnI/AAAAAAAAAB4/3MCAMG0UiCo/s72-c/kissing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8897425156877398884</id><published>2010-04-21T01:37:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mati</title><content type='html'>Andai,&lt;br /&gt;Kulihat wajah senja&lt;br /&gt;Saat punggung bicara&lt;br /&gt;:Bayang-bayangmu selalu membawa perih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tidak perlu datang di pemakamanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8897425156877398884?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8897425156877398884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8897425156877398884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8897425156877398884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/mati.html' title='Mati'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-5516915808735794136</id><published>2010-04-20T18:05:00.005+07:00</published><updated>2011-03-12T19:07:28.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Dari Topeng ke Topeng</title><content type='html'>&lt;i&gt;Perjalanan seorang diri mencari jati diri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Janoary M. Wibowo &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97pCc8lpPI/AAAAAAAAACA/hhNHFJxRFvc/s1600/topeng.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="187" src="http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97pCc8lpPI/AAAAAAAAACA/hhNHFJxRFvc/s200/topeng.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tahukah anda persamaan Si Buruk Rupa &lt;i&gt;Phantom of the Opera&lt;/i&gt; dan Nabi Yusuf yang terkenal karena ketampanannya itu? Mereka sama-sama manusia yang memakai topeng. Phantom of the Opera memakai topeng untuk menutupi wajahnya yang penuh dengan luka bakar. Meskipun ia memiliki talenta dalam kreasi musik opera yang luar biasa, ia harus menyembunyikan wajahnya di balik topeng. Topeng tidak hanya untuk menutupi keburukan, tetapi juga kebaikan. Konon, Nabi Yusuf-lah yang mewariskan tradisi menutup wajah dengan cat atau riasan kosmetik kepada orang Mesir. Ia melakukannya demi menyembunyikan ketampanannya yang konon pula mampu membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai topeng sudah menjadi tradisi sejak zaman purba. Para manusia purba menutupi wajah mereka dengan cat, tanah, atau topeng dari kayu. Ada pula yang memakai aksesoris bagian tubuh binatang. Ksatria tertinggi bangsa Maya memakai kulit jaguar sebagai jubah dan kepala jaguar sebagai mahkota. Lantas, untuk apa tradisi memakai topeng itu dilakukan? Pada dasarnya, semua mempunyai alasan yang sama, sebuah perubahan identitas; menjadi lebih berani di pertempuran, menguatkan peran di sebuah drama, atau menutupi sesuatu yang dianggap kurang layak pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang panggung sandiwara, tempat kita tidak menampakkan wajah yang sebenarnya. Ada banyak topeng yang kita kenakan saat berinteraksi dalam keseharian. Topeng-topeng yang berfungsi menjaga relasi kita dengan orang lain. Tanpa topeng yang sesuai dengan tuntutan kebanyakan orang, kita akan dikucilkan dalam kerumunan. Namun, dengan topeng yang terus menerus kita pakai, kita semakin jauh dari diri sendiri. Kita semakin tidak mengenali siapa yang ada di balik topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Spiderman 2, Peter Parker menemukan kehidupannya berantakan. Dia sering ditegur dosennya karena terlambat kuliah. Kerap kali mendapat omelan dari bos di tempat ia bekerja karena mengantarkan pizza lebih dari 20 menit. Namun, ia tidak mungkin menyatakan kepada dosen dan bosnya bahwa dia adalah Spiderman, yang terlalu sibuk menjadi pahlawan dan menyelamatkan kota untuk sekadar menjadi mahasiswa biasa ataupun tukang antar pizza. Peter Parker adalah topeng bagi Spiderman. Pun, Spiderman juga harus menutupi manusia di balik kostum merah biru itu, Peter Parker. Sebab, jika musuh-musuh Spiderman mengetahui manusia di balik kostum laba-laba itu adalah Peter Parker, orang-orang terdekat Peter akan mendapat bahaya—keadaan Marie-Jane dan Bibi May yang menemukan diri mereka dalam bahaya hanya bumbu melankolia khas Hollywood. Dalam hal ini, Spiderman menjadi topeng bagi Peter Parker. Lantas, siapa yang bukan topeng di film Spiderman 2? Siapa sebenarnya yang diperankan Tobbie McGuirre di Spiderman 2, Peter Parker atau Spiderman? Siapa pula Tobbie McGuirre itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persona dan ketakutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Personality&lt;/i&gt; dalam Bahasa Indonesia mempunyai padanan makna pada kata kepribadian. Kata tersebut berasal dari kata &lt;i&gt;persona&lt;/i&gt; yang berarti topeng. Artinya, kepribadian manusia yang nampak sebenarnya hanyalah topeng belaka. Atau bisa kita katakan, kepribadian itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah persona-persona yang ditampilkan sesuai kebutuhan; seperti apa kita membawa diri di tengah masyarakat, bagaimana kita berkompromi dengan ekspektasi lingkungan sosial. Persona bisa berupa jabatan, pakaian yang dikenakan, perilaku atau kebiasaan yang dikerjakan, atau perkataan yang diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kepribadian, setiap orang adalah seorang yang ketakutan di tengah kawanannya sendiri. Ketakutan akan terungkapnya sebuah sifat yang tidak sesuai tempat dan menjadi pribadi yang tidak diterima di masyarakat. Setiap orang mempunyai ketakutan salah bersikap di kerumunan; menyempatkan diri memilih baju mana yang paling cocok dengan pesta yang akan dihadiri, memilih diam dalam sebuah forum karena takut terlihat bodoh jika salah mengungkapkan pendapat. Ekspresi manusia dibatasi oleh topeng-topeng yang diciptakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini akan menjadi semakin membingungkan saat kita memasuki ruang maya, facebook khususnya. Dalam ruang maya dan dalam facebook, setiap orang merasa bebas berekspresi tanpa adanya ketakutan untuk salah bersikap atau salah mengucap. Padahal, kita sama-sama tahu dan menyebut facebook sebagai jejaring sosial. Setiap orang terhubung dengan orang lain. Sebuah ruang sosial baru terbentuk, yang sangat berbeda dari ruang sosial yang pernah ada. Ruang sosial ini seakan tanpa batas, longgar tuntutan, vulgar, tidak terbendung, dan dianggap bebas—tidak ada siapapun selain kita dan layar komputer di depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebebasan berekspresi yang ada akibat perasaan tidak ada batas dan tidak ada tuntutan yang mengikat, yang disediakan ruang maya seperti facebook tidak serta merta membawa kita ke keadaan diri kita yang sebenarnya. Kita hanya menciptakan topeng baru di ruang maya. Bayangkan jika kesekian ratus atau bahkan ribuan teman yang ada di facebook berkumpul di sebuah gedung dan anda berdiri di sebuah podium dengan mikrofon di depan anda, lalu anda harus mengatakan hal-hal seperti yang anda katakan di facebook; “Apa salahku hingga tega-teganya kau menyakitiku seperti ini? Aku masih mencintaimu”, “Bangun kesiangan, terpaksa deh kuliah tanpa mandi. Xixixixi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibingungkan menemukan diri sendiri di ruang nyata, muncul ruang maya yang membawa fenomena penciptaan topeng masal. Kita semakin tercerabut dari diri kita sebenarnya. Pernyataan-pernyataan di atas hanya semakin menegaskan bahwa kita ini tidak mengenal diri kita. Siapa sebenarnya Agung Hima? Siapa pula Mata Kita? Lantas, saat belum cukup mengenal Muqsith Ary W, sudah muncul lagi Janoary M. Wibowo? Kita hampir tak pernah selesai dengan diri kita, apalagi dunia. Ah, &lt;i&gt;homo viator.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-5516915808735794136?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/5516915808735794136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/dari-topeng-ke-topeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5516915808735794136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/5516915808735794136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/dari-topeng-ke-topeng.html' title='Dari Topeng ke Topeng'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/S97pCc8lpPI/AAAAAAAAACA/hhNHFJxRFvc/s72-c/topeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-2190560674377123205</id><published>2010-04-13T13:38:00.002+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Luntur</title><content type='html'>Ibu gadis cantik&lt;br /&gt;Kehausan&lt;br /&gt;Dan pingsan di perjalanan dari sumber air&lt;br /&gt;Gadis cantik,&lt;br /&gt;Belum sempat menerima kabar&lt;br /&gt;Masih sibuk komplain pada laundry service&lt;br /&gt;:Kaos pink kesayangannya kena luntur merah muda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-2190560674377123205?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/2190560674377123205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/luntur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2190560674377123205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/2190560674377123205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/04/luntur.html' title='Luntur'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-3745558467076968050</id><published>2010-03-22T23:12:00.004+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Merinduimu</title><content type='html'>Lalu kubuka kamarmu&lt;br /&gt;Di sudut hati&lt;br /&gt;Dengan kunci berkarat sayu&lt;br /&gt;Yang kau tinggalkan bergeletak di pojok sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama kau menyusur setapak itu?&lt;br /&gt;Kamarmu telah disinggasanai laba-laba&lt;br /&gt;Yang merajut jaring genting berwarna jingga&lt;br /&gt;Delapan matanya tertawa memandangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai mana angin mengajakmu bermain?&lt;br /&gt;Apakah kau lupa belum selesai melukis cermin?&lt;br /&gt;Kau lupa pula menutup jendela&lt;br /&gt;Hingga hanya kubau dingin dan beku airmata&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-3745558467076968050?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/3745558467076968050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/05/merinduimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3745558467076968050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/3745558467076968050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/05/merinduimu.html' title='Merinduimu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7553418073109076024</id><published>2010-03-11T18:12:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sejak Kapan Hujan Berguyur</title><content type='html'>Entah sejak kapan hujun berguyur hari ini&lt;br /&gt;Aku sepertinya terlalu lama terlelap&lt;br /&gt;Saat mata membuka&lt;br /&gt;Aspal di depan rumah sudah basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa&lt;br /&gt;Benarbenar lupa&lt;br /&gt;Janjijanji yang senyum tanpa ada niat menepati&lt;br /&gt;Katakata yang lengang tanpa jujur atau bohong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa&lt;br /&gt;Benarbenar lupa&lt;br /&gt;Caraku bercerita padamu&lt;br /&gt;Lalu pendongeng murung yang tak mampu menggapai telinga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pula&lt;br /&gt;Aku lupa sejak kapan hujan berguyur hari ini&lt;br /&gt;Juga cerita yang kita punya&lt;br /&gt;Hujan telah mengajaknya pergi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7553418073109076024?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7553418073109076024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/03/sejak-kapan-hujan-berguyur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7553418073109076024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7553418073109076024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/03/sejak-kapan-hujan-berguyur.html' title='Sejak Kapan Hujan Berguyur'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4597420730234680244</id><published>2010-02-18T05:41:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Melangkah</title><content type='html'>Ke mana setelah pagi?&lt;br /&gt;Ke apa dari hujan ini?&lt;br /&gt;Ke manapun ke apapun&lt;br /&gt;Ke jengah lalu terengah-engah&lt;br /&gt;Ke hari tak tercatat sejarah&lt;br /&gt;Lalu,&lt;br /&gt;Ke entah kutetap melangkah..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4597420730234680244?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4597420730234680244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/melangkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4597420730234680244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4597420730234680244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/melangkah.html' title='Melangkah'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-4675018862433436092</id><published>2010-02-08T18:48:00.002+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kau yang Meminta, Nona</title><content type='html'>Hi nona,&lt;br /&gt;Pesona rambutmu&lt;br /&gt;Entah model apa tapi terbaru&lt;br /&gt;Asyik kau pilin ditelunjukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh nona,&lt;br /&gt;T-Shirt ketatmu&lt;br /&gt;Dan lolipop di mulutmu&lt;br /&gt;Itu juga, tetek bulatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf nona,&lt;br /&gt;Maskara di pipimu&lt;br /&gt;Eyeshadow itu&lt;br /&gt;Seperti menuakanmu dari umurmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu, Nona?&lt;br /&gt;Sedang baca majalah apa?&lt;br /&gt;Kau pilih rambutmu di sana?&lt;br /&gt;Lalu T-shirt ketatmu pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi maaf nona,&lt;br /&gt;Kurasa ibumu tak berbicara seperti majalah itu&lt;br /&gt;Di kampung sebelah&lt;br /&gt;Dia sedang menunggu pisang berbuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta nona,&lt;br /&gt;Kau tujuan para mata&lt;br /&gt;Bapak yang memangku putra&lt;br /&gt;Pria berseragam tentara&lt;br /&gt;Lalu di balik topi itu,&lt;br /&gt;Ada pandang terpejam pura-pura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak nona,&lt;br /&gt;Terisaklah&lt;br /&gt;Jika di selangkangmu nanti ada&lt;br /&gt;Yang memaksa meledak&lt;br /&gt;Itu rontamu, nona?&lt;br /&gt;Tapi kulihat tubuh dan pembawaanmu yang meminta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-4675018862433436092?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/4675018862433436092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/hi-nona-pesona-rambutmu-entah-model-apa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4675018862433436092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/4675018862433436092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/hi-nona-pesona-rambutmu-entah-model-apa.html' title='Kau yang Meminta, Nona'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-841415286464463219</id><published>2010-02-06T07:44:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Abu-abu</title><content type='html'>Masih ada aku&lt;br /&gt;Dan gulir roda dari kesepian ke kesepian&lt;br /&gt;Di aspal lembab mendung semalam&lt;br /&gt;Di pagi putih yang abu-abu&lt;br /&gt;Bagaimana putih bisa abu-abu?&lt;br /&gt;Putih adalah putih&lt;br /&gt;Lalu tertawa merah&lt;br /&gt;Makin memerah bara&lt;br /&gt;Akhirnya terhenti di muara: mengabu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada aku&lt;br /&gt;Dan gulir roda dari kesepian ke kesepian&lt;br /&gt;Dari hati rindumu ke rumahmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-841415286464463219?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/841415286464463219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/masih-ada-aku-dan-gulir-roda-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/841415286464463219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/841415286464463219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/02/masih-ada-aku-dan-gulir-roda-dari.html' title='Abu-abu'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7867222382548786285</id><published>2010-01-22T10:09:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hujan Terburu Jatuh</title><content type='html'>Kukemas pakaianku&lt;br /&gt;Tidak dengan baju putih hadiahmu&lt;br /&gt;Kugantung dekat jendela&lt;br /&gt;Takkan kubawa&lt;br /&gt;Mendung sudah menggantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan pula namamu?&lt;br /&gt;Yang kutulis di selembar kain&lt;br /&gt;Dulu mampu membawa kita&lt;br /&gt;Tidak terbang memang: sekadar melayang-layang&lt;br /&gt;Sekarang kusut, angin telah ribut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pelan-pelan&lt;br /&gt;Kutelan semua kenangan&lt;br /&gt;Aku tak lagi tersedak&lt;br /&gt;Seperti kala bibirmu mendarat&lt;br /&gt;di bibirku meninggalkan belepot coklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah,&lt;br /&gt;Jangan berdiri di pintu&lt;br /&gt;Dadaku sudah berat dan akan runtuh&lt;br /&gt;Tolonglah,&lt;br /&gt;Kutak ingin hujan terburu jatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7867222382548786285?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7867222382548786285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/01/hujan-terburu-jatuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7867222382548786285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7867222382548786285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/01/hujan-terburu-jatuh.html' title='Hujan Terburu Jatuh'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-8294716941294764875</id><published>2010-01-03T14:20:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Lelah</title><content type='html'>Di televisi&lt;br /&gt;Kulihat negeri ini&lt;br /&gt;Aku terengah lelah&lt;br /&gt;lebih dari onani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-8294716941294764875?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/8294716941294764875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/01/lelah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8294716941294764875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/8294716941294764875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2010/01/lelah.html' title='Lelah'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-7984548908613664335</id><published>2009-12-27T02:42:00.000+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Melankolia</title><content type='html'>Malam sunyi&lt;br /&gt;Kukecap detak waktu dan degap jantungku sendiri&lt;br /&gt;Tarian-tarian kaku dan ucap-ucap tercekat membayang&lt;br /&gt;Dalam hati yang terjejak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sepi&lt;br /&gt;Bayang perempuan suci&lt;br /&gt;Dan seorang adam yang bernoda lagi&lt;br /&gt;Melayang&lt;br /&gt;Mengambang di atas lantai yang keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sendiri&lt;br /&gt;Benar-benar senyap&lt;br /&gt;Rapal-rapal kepedihan&lt;br /&gt;Terdengar dari berjuta depa merujung sesal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, perawan sunyi&lt;br /&gt;Mengapa kau rapalkan mantra-mantra penyiksa itu?&lt;br /&gt;Akulah tegas noda&lt;br /&gt;Akulah jelas dosa yang menyesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, perawan sepi&lt;br /&gt;Tidakkah kau sambut ajakan sepi?&lt;br /&gt;Untuk menyelam&lt;br /&gt;Tidakkah kau dengar lamat kata sesak?&lt;br /&gt;Sekarang jauh indah dari nanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-7984548908613664335?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/7984548908613664335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2009/12/melankolia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7984548908613664335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/7984548908613664335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2009/12/melankolia.html' title='Melankolia'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5427763888413356668.post-233967963509737290</id><published>2009-12-02T19:03:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T15:45:58.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Altar</title><content type='html'>Kan kupinjam bibir senja&lt;br /&gt;Lalu kuceritakan hikayat pendongeng&lt;br /&gt;Yang tak lagi mendapati&lt;br /&gt;Berpasang telinga mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar hujan pula&lt;br /&gt;Tak lesap melawan kabut&lt;br /&gt;Walau tangan sobek&lt;br /&gt;Dan sesal menetes di sela-sela jari&lt;br /&gt;Beraroma tembakau basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, biarlah malam tetap diam&lt;br /&gt;Altar menunggu sesembahan&lt;br /&gt;Dan, menunggu sang pujaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5427763888413356668-233967963509737290?l=ruangnapas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangnapas.blogspot.com/feeds/233967963509737290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2009/12/kan-kupinjam-bibir-senja-lalu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/233967963509737290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5427763888413356668/posts/default/233967963509737290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangnapas.blogspot.com/2009/12/kan-kupinjam-bibir-senja-lalu.html' title='Altar'/><author><name>Janoary M. Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18022840635272909217</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_cCNbYh9embE/SoUw91II4FI/AAAAAAAAAAM/l_hN7L4fO4M/S220/upLoaddre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
